[naskah asli tulisan ini dibuat pada 8 Oktober 2001, saya sesuaikan sedikit untuk konsumsi pembaca blog] 

Menarik sekali ketika saya mendapat kesempatan untuk berada di tengah perdebatan antara evolusionis dan kreasionis. Kreasionis mengemukakan pendapatnya bahwa makhluk hidup di dunia ini tercipta dalam keadaan sempurna kompleks dengan disertai bukti-buktinya. Sementara evolusionis pun mengemukakan pendapatnya bahwa makhluk hidup sekarang berkembang dari sederhana menuju ke arah kompleks, dengan disertai bukti-buktinya.

Ketertarikan saya semakin menjadi ketika perdebatan-perdebatan itu telah mengarah ke perdebatan ideologi. Selama ini evolusionis selalu dinisbatkan dengan paham materialistik bahkan ateistik, sementara kreasionis selama ini dinisbatkan dengan kelompok religius.

Memang pertama munculnya darwinisme adalah dalam rangkaian arus materialisme dan sekularisme di barat. Ketika mereka terlepas dari kungkungan dogmatis institusi agama mereka, mereka begitu bangga dan berusaha untuk mencari jati dirinya di luar gama. Ketika itulah mereka mengembangkan berbagai macam prinsip-prinsip dan metode-metode ilmiah yang kemudian mereka gunakan untuk memahami hakikat hidup mereka di dunia ini.

Salah satunya adalah dengan memakai teori evolusi. Memang pada awal pertamanya teori ini masih berupa hipotesis. Inilah yang disebut darwinisme, yang kemudian mempengaruhi keseluruhan gerak psikis dunia barat dalam mencari jatidirinya.

Salah satu bidang yang terpengaruh adalah sains. Bidang inilah sebenarnya yang pertama menolak darwinisme klasik yang tidak didukung oleh bukti yang kuat. Tapi kemudian bidang ini pula yang melahirkan aliran baru yang disebut neo darwinisme. Bidang inilah yang mengembangkan ide evolusi ke arah yang ilmiah. Para ilmuwan dengan memakai metode-metode ilmiah, mendapatkan bukti baru bahwa evolusi itu memang ada.

Tapi di lain pihak bukti-bukti itu belum cukup kuat untuk meningkatkan kadar kepastian dari teori tersebut. Berangkat dari ketidakpastian inilah kreasionis menyusun pembelaannya. Memang seperti itulah keadaannya bagi kreasionis, nature dari teori kreasi memang bukan sebagai teori sekular [1], tapi lebih merupakan pembakuan kitab suci dengan memakai terminologi ilmiah dan emerging secara baku justru dari kelemahan teori evolusi [2].

Terlepas dari perdebatan tersebut, saya mengakui bahwa kedua teori tersebut sama-sama berangkat dari cara-cara ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Even mungkin teori kreasionis dalam tahap awalnya hanya memakai nash kitab suci, hal tersebut tetap tidak mengurangi kadar ilmiahnya karena memang cara pemahaman atas kitab suci sejatinya adalah ilmiah juga.

Dengan metode ilmiah (baik secara metode ilmiah sains maupun metode ilmiah agama) manusia telah banyak menyingkap keajaiban alam dan keagungan Alloh penciptanya. Dengan metode ilmiah itulah para ilmuwan dan ulama berdzikir, memikirkan tentang penciptaan bumi, langit dan semua mahluk di antara dan di dalamnya.

Lalu salahkah jika dengan metode ilmiah itu ternyata seorang ilmuwan, setelah menemukan bukti-bukti fosil, DNA dan lain-lainnya, kemudian membuat kesimpulan bahwa terdapat kekerabatan antar mahluk dan terdapat perkembangan spesies dari bentuk yang paling sederhana menjadi yang paling kompleks. Kemudian dia mengemukakan sebuah teori tentang evolusi yang dibangun dengan dasar ilmiah.

Kemudian setelah itu dia mengucapkan, “Rabbana maa khalaqta hadzaa bathilan, subhanaka faqinaa ‘adzaa bannaar.”

Para kreasionis memang banyak mengambil dalil dari nash-nash. Namun menurut saya pribadi dan sependek pengetahuan saya, tidak ada ayat-ayat yang jelas dengan detail sedetail-detailnya menceritakan penciptaan manusia. Yang ada adalah dalil-dalil umum yang bisa ditafsirkan lain. Yang kalau para kreasionis mengemukakan dalil-dalil tersebut untuk mendukung pendapatnya, maka evolusionis (yang religius) pun bisa memakai ayat yang sama untuk mendukung pendapatnya. Dan itulah, saya kira semua pihak hanya mengira-ngira berdasarkan bukti-bukti ilmiah (baik dari alam maupun kitab suci) yang kita temukan.

Alloh dengan sengaja tidak menceritakan proses penciptaannya secara detail sedetail-detailnya. Yang ada hanyalah perintah untuk mengamati bagaimana Alloh menciptakan mahluk-Nya. Dan saya rasa perintah itu bisa dilaksanakan oleh kreasionis maupun evolusionis. Lalu apakah ada yang lebih utama dan lebih hina antara kedua belah pihak?

Memang saya akui bahwa banyak evolusionis yang memiliki paham yang materialistik atau bahkan ateistik. Mereka menganggap evolusi telah menunjukkan bahwa alam bisa berkembang dengan sendirinya tanpa tergantung pada Alloh. Sesungguhnya, mereka itulah lawan kita yang sebenarnya…

Walaupun evolusi berjalan, bukan berarti Alloh telah kehilangan kekuasan-Nya, yang kemudian dia menyerahkan penciptaan-Nya begitu saja pada alam. Tapi justru di dalam evolusi itulah terlihat betapa Alloh berkuasa memperjalankan materi-materi melalui suatu jalur yang mungkin dianggap kebetulan oleh manusia tapi ternyata dia menentukan bahwa yang kebetulan itulah yang terjadi. Ternyata evolusi pun bisa menjadi bukti kebesaran Alloh, seperti juga kreasi. Lalu apakah ada yang lebih utama di antara kedua belah pihak?

Sepertinya bidang teoritis ilmiah ini bukanlah tempat untuk membawa sentimen agama atau ideologi apapun. Namun justru dari wilayah teoritis ilmiah ini kita bisa merenungkan kebesaran Alloh dan memperbesar sentimen agama kita.

Saya sedikit merasa kecewa ketika suatu saat saya menemukan buku-buku kreasionis diterbitkan oleh penerbit Islami, dijual di masjid-masjid, dibedah di ta’lim-ta’lim dan dipromosikan sebagai sebuah kebenaran. Sepertinya ketika itu saya harus merasa “kehilangan” Tuhan, karena saya telah berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain dalam pendapat teoritisnya. Terus terang baru kali ini saya merasa seperti itu. Padahal sebelumnya saya – yang cenderung pada evolusi – tidak pernah merasa “kehilangan” Tuhan.

Beruntung pada suatu saat saya – qadarullah – saya bertemua dengan seorang akh yang kapabilitas ilmunya (dalam permasalahan kreasi – evolusi ini) tidak diragukan lagi. Setelah berusaha curhat, beliau membesarkan hati saya bahwa dengan pendapat mengenai evolusi yang se-religius pendapat saya, maka sebenarnya saya adalah seorang kreasionis sejati juga, tidak berbeda dengan Harun Yahya atau yang lain. Hanya saja saya memahami kreasi Alloh dari sisi evolusi. Saya menjadi semakin disadarkan bahwa yang harus kita lawan sebenarnya bukan teori evolusinya, tapi dasar materialistik dan ateistik di balik kedok evolusi.

Inti dari tulisan ini, adalah bahwa ternyata baik teori evolusi maupun teori kreasi, keduanya adalah fenomena perbedaan teoritis ilmiah dalam usaha menerjemahkan perintah Alloh yang meminta hamba-Nya memikirkan penciptaan-Nya.

Memang – katanya – tidak ada teori yang bebas nilai. Teori evolusi diciptakan oleh orang-orang yang kebetulan materialis sedangkan teori kreasi kebetulan diciptakan oleh orang-orang yang religius. Tapi semuanya masih merupakan teori yang kemudian bisa diuji dengan kalimatussawaa’ berupa metode-metode pengujian ilmiah.

**********

Footnote:

[1] mohon pembaca kalau baca kata-kata sekular jangan parno duluan dan menganggap saya promotor sekularisme. Yang benar adalah bahwa saya memakai terminologi ini dalam rangka menjelaskan bahwa teori kreasi bukan seperti teori lain yang tidak memakai komponen utama nash dalam penyusunan teorinya.

[2] Lagu wajib pengikut kreasionis ketika hendak “meruntuhkan” teori evolusi adalah hoax Piltdown. Seolah-olah jika sudah diungkapkan skandal tersebut, maka otomatis teori evolusi sudah “runtuh”.