Kita kan hidup di bumi dan katanya musti memakmurkan bumi. Trus ngapain juga ngliatin langit (tiap malam). Bintang kan hidupnya jauh di atas sono, sementara kita di bumi. Nggak ada hubungannya kale?

Kalau ngliat sejarah, sebenarnya astronomi itu (pernah) sangat berguna. Ketika teknologi belum berkembang, maka peradaban manusia pun terkait erat dengan langit. Petani dan nelayan menentukan kapan mulai musim tanam dan mulai melaut dengan melihat kemunculan rasi bintang tertentu (bukan dengan melihat kalender). Petani berangkat ke sawah ketika fajar menyingsing dan pulang ketika matahari bersinar terik (mereka tidak bawa jam tangan ke sawah). Nelayan menentukan arah dengan rasi bintang tertentu (bukan dengan kompas apalagi GPS). Anak-anak bergembira ria ketika bulan purnama (bukan malam minggu seperti sekarang). Orang-orang menghibur diri dengan melihat langit dan mengimajinasikan gambar-gambar di langit (bukan seperti orang sekarang yang imajinasinya didikte oleh televisi). Jengis Khan ketika akan menyelundupkan mata-matanya ke pihak musuh akan menghindari saat-saat bulan bersinar (dia nggak pernah dipusingkan oleh radar).

Saking bergunanya langit (dan pengetahuan tentang langit), orang-orang jaman dulu jadi punya dzon bahwa tuhan mereka adalah salah satu dari benda langit. Ada yang memuja matahari, ada yang memuja bulan, ada yang memuja komet, meteor atau bintang Sirius (Al Qur’an menyebutnya syi’ra), dan lain-lain. Selain menduga tuhan mereka adalah benda langit, saking bergunanya perhitungan tentang langit, saat itu mereka juga mengira bahwa nasib mereka ditentukan oleh posisi benda-benda langit, yang sampai melahirkan astrologi.

Tapi ketika zaman berubah, maka rasi bintang pun digantikan dengan kalender, kompas, GPS, televisi. Bintang-bintang dan bulan sudah digantikan oleh lampu-lampu. Semua kebutuhan manusia sudah tersedia di bumi ini tanpa perlu menegadah lagi ke langit. Tidak ada lagi orang yang merasa perlu menegadahkan mukanya ke langit kecuali memang berprofesi sebagai astronom profesional, hobby atau memenuhi keinginan romantisismenya.

Maka jadilah astronomi hanya seolah-olah ilmu teoritis yang tidak jelas gunanya bagi umat manusia. Tapi mutlak benarkah hal tersebut?

Ternyata pernyataan itu tidak mutlak benar. Ada beberapa kegunaan astronomi yang sepertinya masih relevan sampai saat ini :

1. Perhitungan pasang surut air laut.
Dari zaman dulu sampai sekarang manusia tetap dipengaruhi oleh pasang surut. Dan perhitungan/perkiraan tentang terjadinya pasang surut murni bidang garap astronomi.

2. Pengamatan spaceweather.
Luar angkasa ternyata memiliki cuacanya sendiri. Khusus untuk bumi pengaruh yang mengeksposnya terutama adalah badai matahari, gelombang radio dan x ray dari matahari. Walaupun bumi sebenarnya memiliki mekanisme perlindungan, namun apabila berlebihan, badai matahari dan x ray bisa juga membahayakan.

3. Pengamatan benda-benda yang potensial menabrak bumi.
Yang ini jelas harus dilakukan agar bumi kita – biidznillah – tetap bisa selamat.

4. Peluncuran satelit mengorbit bumi atau wahana lain ke bulan atau planet lain.
Pengetahuan dan perhitungan astronomi sangat berguna untuk mengantarkan mereka ke tujuannya.

5. Usaha mencari “bumi” lain.
Jika suatu saat – qadarullah – bumi tidak memungkinkan lagi ditinggali, maka astronom akan mencoba memberikan alternatif “bumi-bumi” cadangan untuk kita. (tentunya selama pesawat yang mengantarkan kita ke “bumi” baru itu sudah tersedia).

6. Melihat hilal
Untuk umat Islam, melihat hilal bulan baru menjadi syarat penting dalam penanggalannya. Pengamatan hilal yang terbaik harus dilakukan oleh orang-orang yang memahami astronomi. Ini diperlukan untuk menghindari kontroversi salah lihat.

Seperti itulah antara lain kegunaan astronomi saat ini. Jadi, astronomi bukanlah ilmu romantis yang sia-sia untuk didalami.