Setiap hari kerja, aku selalu melintasi jalur dari Kukusan, Depok ke Stasiun Pondok Cina. Jalur yang biasa bagi kebanyakan orang, tapi istimewa bagi saya. Saya selalu menikmati saat-saat mulai dari menikung dari jalur paving dari Kukusan Kelurahan masuk ke Jalan Lingkar Utama UI. Bagaimana saya melintasi jalan yang menurun dan akhirnya menanjak di jalur menuju menara air atau di jalan utama menuju ke FMIPA. Tak henti-hentinya saya bertanya-tanya dalam diri mengenai bentuk muka tanah yang (menurut saya) luar biasa itu.

Di sisi kanan terdapat Poltek yang bangunan-bangunan utamanya dibangun di tanah yang agak tinggi dengan diapit tanah yang lebih rendah berupa situ (danau) di sebelah timur dan sungai kecil di sebelah barat. Situ Poltek dan sungai kecil itu bergabung dan mengalir ke seberang jalan utama UI menjadi situ di belakang Pusgiwa yang berangkai dengan situ-situ lainnya sampai Danau Salam di dekat Asrama UI. Luar Biasa !!

Di tengah berbagai pertanyaan itu, ketika sedang musim-musimnya banjir Jakarta 2007 dan dipublikasikan tentang jalur-jalur sungai purba di Jakarta yang di antaranya melewati UI, aku mulai membayangkan bahwa rangkaian situ UI itu 5.000 tahun yang lalu adalah sebuah sungai (besar?) yang menuju daerah rawa yang sekarang dinamakan Jakarta[1].

Mulailah aku menggali ingatan-ingatanku mengenai bentuk tanah yang mungkin mengindikasikan alur sungai purba, baik ke arah hulu maupun hilir (dihitung dari UI).

Ke selatan:

– Di daerah Kemiri Muka, Depok terdapat alur cekungan (lumayan curam) yang sekarang sudah dipenuhi rumah-rumah.

– Di daerah Lio ada sebuah situ yang belakangan kuketahui bernama Situ Rawa Besar. Bentuknya juga memanjang dari utara ke selatan, mirip pola situ-situ di UI.

– Di sebelah barat stasiun Citayam terdapat situ yang bentuknya juga memanjang.

Ke utara:

– Di Jl Raya Lenteng Agung selepas Gerbang UI akan dijumpai turunan dan tanjakan. Selain itu di Jl Srengseng Sawah dari arah Jl Raya Lenteng Agung juga dijumpai turunan dan tanjakan. Dengan fakta ini sepertinya selepas dari kompleks UI sungai purba itu bercabang 2, satu ke arah utara dan yang lain ke arah sungai Ciliwung.

– Ke utara lagi, di Jalan M Kafi 2 di dekat pertigaan dengan Jl Raya Lenteng Agung terdapat turunan dan tanjakan lagi (kalo nggak salah di daerah Pool Kendaraan Dinas Pertamanan).

– Ke utara lagi, di Jalan Joe, di dekat ujungnya di Jl Raya Lenteng Agung terdapat juga turunan dan tanjakan yang cukup dalam.

– Ke utara lagi di Jl TB Simatupang di sekitar kawasan Perkantoran Arkadia (Nestle), jalan juga agak menurun dan menanjak.

– Selanjutnya di Jl Ragunan, di dekat RS Pasar Minggu, kontur jalannya juga sama.

– Terakhir aku lihat kontur jalan seperti itu terasa di Jl Duren Tiga (Utara).

Ketika sampai di Jl. Gatot Subroto kontur jalan seperti itu tidak terasa lagi. Mungkin dulunya sungai purba itu bermuara di situ (di daerah rawa-rawa Jakarta) atau mungkin dari Jl Gatot Subroto ke utara tanahnya sudah benar-benar diratakan.

Jadi sepertinya jalur sungai purba itu adalah dari Situ Citayam (bukan berarti hulunya di situ tapi sejauh-jauh ingatanku, di situlah saya melihat bentuk daratan yang lain dari biasa) kemudian ke Situ Rawa Besar, Kemiri Muka, Situ-situ di UI, dekat kantor lurah Srengseng Sawah, pool truk Dinas Pertamanan Lenteng Agung, Wisma Arkadia, dekat RS Pasar Minggu, PLN Duren Tiga.

Itu dugaan pertama.

Tapi setelah mengingat-ingat lebih detail lagi, sepertinya aku melupakan Situ Babakan di Srengseng Sawah. Padahal bentuknya yang memanjang cukup menarik juga.

Dari Situ Babakan, ke selatan:

– Di sebelah barat Jl KHM Usman (d.h. Jl Raya Kukusan) Terdapat cekungan memanjang yang menyerupai rawa-rawa. Di wilayah Depok, cekungan (dan sungai kecil di pusat cekungan itu) dijadikan perbatasan Kelurahan Kukusan dan Tanah Baru. Sebagian besar wilayah rawa-rawa itu masih kosong tanpa rumah. Paling ada di beberapa tempat yang dimanfaatkan, misalnya di belakang Pondokan Kukusan Permai yang dijadikan Kolam renang dan pemancingan.

– Cekungan itu berlanjut terus sampai ke dekat RS Bhakti Yudha.

– Jika dilihat dari Google Earth setelah RS Bhakti Yuda pola tanah kosong yang diperkirakan cekungan atau rawa-rawa terus memanjang ke selatan sampai… Situ Citayam!

Dari Situ Babakan ke utara:

– Pola cekungannya ternyata memotong JL M Kafi 2 di dekat Masjid Jamaah Ahmadiyah Lenteng Agung dan kemudian menuju … Pool Kendaraan Dinas Pertamanan!

Sungai purba itu sepertinya saling berhubungan, walaupun mungkin juga dugaanku terkait alur sungai purba UI salah. Mungkin saja ternyata alur sungai purba UI itu tidak berhubungan dengan sungai purba di pool kendaraan dinas pertamanan namun justru berhubungan dengan daerah yang sekarang menjadi meander Ciliwung. Apalagi kalau kita mengingat daerah sekitar Pasar Ikan Segar Jl. Raya Lenteng Agung yang sepertinya menunjukkan semacam link dari kompleks sungai purba UI ke meander Ciliwung.

Begitu juga dengan keterkaitan alur sungai purba UI dengan Situ Citayam, bisa benar bisa salah. Boleh jadi malah alur sungai purba UI setelah lepas dari Situ Rawa Besar balik lagi ke jalur meander Ciliwung. Soalnya bentuk Situ Citayam yang (jika dilihat dari Google Earth) justru lebih mengarah ke alur terusan Situ Babakan – Tanah Baru.

Keasyikan tidak berhenti di sini. Masih ada satu jalur situ yang sepertinya mengasyikkan untuk ditelusuri, yaitu jalur situ di Kebun Binatang Ragunan yang (seperti biasa) polanya memanjang a la situ-situ UI. Ke selatan jalur situ itu bisa jadi bersambung dengan Situ Babakan secara langsung maupun melewati cekungan dekat Kantor Camat Jagakarsa, wallahu a’lam.

Sedangkan ke utara, jalur situ KB Ragunan sepertinya berhubungan dengan cekungan di jalan TB Simatupang dekat Kantor Departemen Pertanian (yang jadi langganan banjir itu lho) kemudian terus ke utara sampai di Jl Ragunan dekat dengan pertigaan Jl Warung Jati Barat. Terus ke utara, jalur ini sepertinya berhubungan dengan cekungan panjang di Kemang dan Bangka sampai Tendean (yang juga langganan banjir). Tapi saya masih ragu apakah jalur itu “menyeberangi” Jl. Warung Jati Barat di perempatan Republika atau di selatan Graha Mobisel. Wallahu a’lam.

Situ Babakan, selain berhubungan dengan jalur cekungan perbatasan Kukusan Tanah Baru (sepertinya) juga berhubungan dengan Danau Salam lewat Kompleks Zeni dan rangkaian rawa di dekat daerah Lapangan Merah Srengseng Sawah. Dari rangkaian rawa itu ke arah selatan sepertinya berhubungan dengan cekungan perbatasan Jakarta Depok dekat dengan pagar Kampus UI (sekitar Jl Kesatuan) untuk kemudian berhubungan dengan cekungan yang mengarah ke salah satu Situ di UI (masih di daerah perbatasan Jakarta Depok).

Selain berhubungan dengan Situ Babakan ke arah utara, ke selatan Situ Perbatasan Jakarta Depok di UI itu juga berhubungan dengan daerah cekungan di daerah Kukusan Teknik yang berupa jalur rawa-rawa dan empang. Beberapa tempat di jalur itu sudah dibuat bangunan di atasnya, termasuk bangunan Masjid (yang oleh masyarakat sekitar lebih dikenal dengan Masjid-nya Hasyim Muzadi).

Lebih ke selatan lagi cekungan itu berlanjut sebagai urutan empang-empang di antara Kukusan Teknik dan Kukusan Kelurahan sampai daerah Kandang Sapi Kukusan. Sebenarnya polanya masih berlanjut sampai lapangan sepakbola Persik dan terus ke selatan bersambung dengan pola sungai kecil di Barat Poltek kemudian ke daerah Sempu (Beji Timur) dan mungkin bersambung sampai daerah Lapangan Hawai dan bergabung dengan cekungan Kemiri Muka. Wallahu a’lam.

Ketika memperkirakan bahwa alur sungai purba pernah mengalir di jantung Kelurahan Kukusan aku jadi teringat dengan legenda palakali (saat ini palakali adalah nama jalan di daerah sekitar lapangan persik dan deretan empang Kukusan). Konon palakali itu berarti induk dari sungai. Mungkinkah memang legenda itu terkait dengan adanya sungai (besar) yang mengalir di daerah itu?

Kesimpulannya, ternyata selama ini aku tinggal di Paleo-Mesopotamia!!! Aneh rasanya membayangkan di sebelah timur rumahku, di jalur Kemiri Muka, Kukusan dan UI air mengalir dan di sebelah barat rumahku, jalur Tanah Baru, juga penuh mengalirkan air.

Subhanallah !

************

Footnote:

[1] Jakarta itu dulu rawa, lho. Makanya Sultan Agung kerepotan pas menyerbu Batavia. Lha wong, di Jogja gak ada rawa.

Advertisements