Rukyatul hilal Zulhijjah 1428 H. Arab Saudi dianggap salah?? Bukan berita baru bagi penggiat rukyatul hilal.
Namun berbeda dengan kontroversi sebelumnya yang biasanya berkutat masalah definisi hilal dan metode ummul qura yang berbeda dengan negara-negara lain, kali ini (menurut saya) kontroversinya lebih parah lagi.

Kejadiannya kurang lebih seperti ini…:

Tanggal 9 Desember 2007 di Makkah Al Mukarramah, pada saat matahari terbenam (kurang lebih pukul 17.35), selisih azimuth bulan dan matahari sebesar 3,552 derajat, selisih tinggi matahari dan bulan sebesar minus 4,483 derajat (posisi bulan sudah terbenam), sehingga elongasi 5,717 derajat (semua hitungan ini saya comot dari artikel Analisis singkat penentuan 1 Zulhijjah 1428 H Versi Kerajaan Saudi Arabia tulisan Ma’rufin Sudibyo)

Berdasarkan simulasi tersebut, tidak mungkin ada bulan baru pada tanggal 9 Desember 2007, karena Bulan terbenam terlebih dahulu daripada Matahari. Sangat mengherankan dan Insya Alloh mustahil kalau ada perukyat yang mengaku melihat bulan baru pada tanggal tersebut.

Saya harap para pembaca tidak antipati dulu pada perhitungan hisab. Para ahli hisab (astronom) dengan seluruh alat-alat hitungnya, softwarenya dll saat ini sudah sampai tingkat ketelitian yang tinggi dan selisih antara perhitungan yang satu dan yang lain sangat kecil sekali hingga bisa diabaikan.

Dan kalaupun masih ada yang meragukan simulasi hitungan hisab tersebut, maka saya katakan bahwa masalahnya di sini bukan sekedar akurasi perhitungan atau selisih perhitungan, tapi sudah menyentuh permasalahan yang sangat-sangat fundamental dalam pandangan jamaah astronom dari zaman dahulu (pra Islam) sampai sekarang: “Tidak mungkin ada bulan baru kalau bulan terbenam lebih dahulu dari matahari”.

Harap diperhatikan bahwa ketika saya mengajukan simulasi perhitungan ini bukan berarti saya termasuk ahli hisab yang menafikan rukyat. Rasul telah menentukan bahwa penanda bulan baru adalah visibilitas bulan, dan hitungan hisab semata tidak menentukan visibilitas bulan karena visibilitas juga ditentukan oleh banyak faktor-faktor lain.

Selanjutnya ijtima’ (konjungsi) kurang lebih baru terjadi pada tanggal 9 Desember 2007 pukul 20.41 waktu Makkah, jauh setelah matahari terbenam.

Pada saat matahari terbenam tanggal 10 Desember 2007 selisih tinggi Bulan dan Matahari sudah menunjukkan angka positif yaitu sebesar 5,528 derajat. Secara teoritis, dengan ketinggian seperti ini, visibilitas bulan jika dilihat dari Makkah masih cenderung sulit terlihat dengan mata telanjang. Hilal baru mungkin terlihat dengan alat bantu. Sementara menurut ijtihad ulama Saudi, penggunaan alat bantu melihat hilal tidak diperbolehkan (rukyat harus dilakukan dengan mata telanjang). Jadi, kalaupun ada yang mengaku melihat hilal (dengan mata telanjang) pada tanggal 10 Desember 2007 di Makkah (atau Saudi secara umum), itu pun harus dipertanyakan.

Bayangkan deh, melihat hilal tanggal 10 Desember saja sudah cukup kontroversial dari satu sisi, apalagi jika ada yang mengaku melihat hilal tanggal 9 Desember.

Bahkan Mr Ma’rufin telah memperhitungkan kemungkinan adanya salah lihat dari perukyat tradisional Saudi, yaitu kemungkinan bahwa yang dilihat oleh mereka pada tanggal 9 Desember adalah Planet Jupiter. Beliau sudah memberikan perhitungan rinci untuk masalah ini dan cukup masuk akal juga untuk mempertimbangkan kemungkinan ini.

Ah sudahlah, bagaimana pun hal itu sudah menjadi ketetapan pemerintah Saudi. Salah benar itu tanggung jawab mereka. Dan kewajiban masyarakat Saudi adalah mengikuti keputusan pemerintahnya. (untunglah saya tinggal di Indonesia. Soalnya – kebetulan – pemerintah Indonesia relatif kurang kontroversial dalam penetapan bulan) Dan kalau ada pembaca yang tinggal di Indonesia yang mengikuti ketetapan Saudi untuk berhari raya (karena mengikuti wuquf Arofah) saya juga tidak mau menyalahkan.

Wallahu a’lam