[prolog]

Tulisan ini pertama saya buat pada bulan Februari 2002 saat saya belum ruju’ ke manhaj salaf. Saat ini saya publikasikan kembali dengan edit di sana sini agar lebih sesuai dengan pemahaman saya saat ini.

Sejak awalnya tulisan ini memang agak membingungkan. Tapi insya Alloh tulisan pertama inilah yang akan menjadi dasar dari tulisan-tulisan yang akan saya publikasikan berikutnya yang banyak menyorot mengenai pemikiran sesat dari orang-orang bermanhaj liberal.

[mulai tulisan]

Tulisan ini diilhami oleh sebuah pertanyaan dasar tentang bagaimana seharusnya kita mengagungkan Tuhan dan apakah agama tidak diperbolehkan untuk memasuki wilayah-wilayah duniawi?

Alloh adalah Dzat yang Maha Mulia, sempurna, tidak ada yang menyerupainya dan tidak ada satu pun makhluknya yang bisa berpikir mengenai Dzat-Nya. Hanya sumber suci yang langsung dari-Nya lah yang bisa menjelaskan mengenai Diri-Nya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul.

Alloh mengetahui bahwa hamba-Nya memiliki kelemahan dalam kaitannya dengan pemahaman terhadap Dzat Alloh. Maka Alloh memahamkan manusia terhadap Dzat-Nya sesuai dengan fitrah kelemahan manusia itu. Dia banyak menjelaskan mengenai Dzat-Nya sendiri di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul Mulia sesuai dengan kemampuan manusia untuk memahami. Dengannya kita bisa memahami bahwa Alloh itu memiliki sifat Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Quddus, bertangan, berwajah dan seterusnya.

Alloh menjelaskan itu semua dalam kerangka kelemahan manusia untuk memahami sifat tersebut. Maka tidak akan ada manusia yang bisa memahami beyond sifat-sifat tersebut. Hal itu dilakukan Alloh untuk menjaga pemikiran manusia agar tetap concern dengan tugas utama dari-Nya yaitu menjadi khalifah di muka Bumi dan meninggalkan pemikiran kontraproduktif mengenai Dzat-Nya. Alloh telah menutupi kelemahan manusia itu dari pemikiran-pemikiran yang tidak berguna.

Kemudian Alloh juga berkehendak memuliakan manusia, yaitu dengan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Maka Alloh pun menurunkan pedoman mengenai bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak di muka Bumi yang kemudian kita kenal sebagai addiin.

Addiin adalah pemberian Alloh dan bukanlah Alloh itu sendiri. Alloh adalah suatu Dzat Mulia dengan sendirinya di atas Arsy-Nya sedangkan addiin adalah pemberiannya kepada hambanya untuk dilaksanakan. Pelaksanaan perintah ini dilakukan sebagai perwujudan rasa ta’dzim (pengagungannya) terhadap raja tersebut.

Di sinilah juga kita bisa membongkar kesalahan para pembela iblis yang menyatakan bahwa iblis menolak sujud kepada Adam karena dia hanya mau sujud kepada Alloh. Iblis telah mengagungkan secara salah perintah Alloh untuk tidak sujud kecuali hanya pada Alloh. Dan melupakan pengagungannya terhadap Alloh itu sendiri.

Kita mengagungkan Alloh dengan melaksanakan perintah-Nya, bukan dengan mempetikacakan perintah-Nya dengan anggapan hal itu akan mengagungkan Alloh.

Kekonyolan anggapan ini bisa saya gambarkan dengan seorang hamba yang menganggap dirinya begitu mengagungkan sang raja. Suatu ketika sang raja memberikan surat berisi titah yang harus disampaikan oleh hamba itu ke seluruh negeri. Ternyata yang dilakukan hamba itu adalah menyimpan surat raja itu, merawatnya, membersihkannya dari debu-debu dll., dan tidak melaksanakan perintah raja untuk menyampaikan isi surat itu ke seluruh negeri. Maka bagaimana mungkin hamba itu akan disayangi oleh sang raja? Bahkan mungkin ia akan dimurkai dan dimasukkan penjara.

Maka untuk mengatakan bahwa kita harus mengagungkan Alloh dengan menjauhkan addiin ini dari kotoran-kotoran dunia ini, saya kira bukanlah menjadi pengagungan Alloh dan pelaksanaan perintah Alloh yang benar. Addiin ini diturunkan justru untuk membersihkan dunia dari kotoran-kotorannya, bukan harus diperlakukan sebagai barang lemah yang harus dijaga agar dunia ini tidak menyentuhnya.

Lalu bagaimana dengan keagungan Alloh? Jangan khawatir, Alloh akan tetap Agung di atas Arsy-Nya. Yang harus kita khawatirkan adalah diri kita sendiri apakah kita bisa menjalankan agama-Nya ini dengan baik sehingga bisa mendapat sedikit percikan keagungan-Nya.

Terakhir saya tegaskan kembali kesimpulan tulisan ini, bahwa addiin bukanlah Tuhan kita, Tuhan kita adalah Alloh. Kita mengagungkan-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya (addiin). Maka tidak ada yang dilakukan hamba setelah datangnya perintah selain menjalankan perintah-Nya dalam ketundukan sepenuhnya pada Alloh.

Wallahu a’lam.