[aslinya tulisan ini dibuat pada Februari 2002, saya sajikan kembali dengan editing seperlunya]

Ngotot banget sih? Jihad, jihad, ngapain jihad? Emangnya Tuhan begitu lemah hingga harus dibela dengan jihad?

Memang benar bahwa Tuhan itu mustahil lemah, Alloh itu Maha Kuat. Kata-kata bahwa “Tuhan tidak perlu dibela” (wallahu a’lam) Insya Alloh, memang benar.

Dengan dalih Tuhan tidak perlu dibela, musuh Islam berusaha melemahkan semangat jihad dari umat ini. Mereka berkata bahwa Tuhan itu sudah kuat jadi ngapain berperang untuk Tuhan?

Inti kerancuan pemikiran mereka adalah pada penyamaan istilah agama dengan Tuhan. Padahal sebenarnya Tuhan yang satu itu adalah Alloh. Sementara agama, yang diturunkan oleh-Nya sebagai petunjuk bagi umat manusia itu bukanlah Tuhan.

Jadi ketika umat Muslim melakukan jihad (perang), mereka bukan sedang membela Alloh secara Dzat-Nya, namun mereka sedang berperang membela agama Alloh dan mengagungkan perintah-Nya untuk membela risalah-Nya,. Sedangkan Alloh-nya sendiri, secara nyata sudah menang dengan sendirinya di atas Arsy-Nya sana.

Di alam azali, manusia sudah mengetahui bahwa Alloh adalah Rabb-nya. Namun ketika kemudian manusia diturunkan ke dunia, mereka dilenakan oleh kehidupan dunia. Maka diutuslah para Rasul untuk mengingatkan mereka dan membawakan hukum Alloh, pencipta alam ini, untuk kemudian harus diterapkan oleh manusia sehingga alam ini bisa berjalan harmonis.

Ketika suatu risalah diturunkan, maka dia harus diturunkan sesuai dengan benchmark kelemahan manusia. Kelima indera fisik manusia tidak bisa mencerap hal ghaib seperti Alloh, jin, malaikat. Oleh karena itu, Alloh menurunkan risalahnya dalam bentuk Rasul dari kalangan manusia, kitab suci dan penjelasannya berupa sunnah yang bisa dilihat, dibaca dan dipelajari oleh manusia.

Karena diturunkan dalam benchmark kelemahan manusia, maka nature dari risalah itu akan hampir mirip dengan aturan-aturan lain yang dibuat-buat oleh manusia.

Secara hakikat, aturan Alloh memang selalu lebih superior dibandingkan segala macam aturan buatan manusia. Namun dalam pandangan manusia biasa, baik aturan Alloh maupun aturan buatan manusia lebih kurang akan terlihat sama. Oleh karena itulah Islam sering digambarkan sejajar dan atau diperbandingkan dengan ideologi lainnya seperti kapitalisme, komunisme, materialisme dll. (bahkan Islam oleh orientalis kadang disebut juga mohamedanism – isme-nya Muhammad)

Karena nature-nya itulah, risalah juga mengalami sunnatullah normal sebagaimana semua aturan (dan ideologi) di dunia, yaitu “Risalah juga harus diperjuangkan agar bisa diterima oleh semua manusia”. Oleh sebab itulah Alloh menciptakan juga bersama Rasul itu, umat yang akan menda’wahkan dan memperjuangkan risalah agar seluruh manusia bisa merasakan kasih sayang risalah Alloh.

Sebagai bagian dari sunnatullah-Nya juga, dijadikan untuk tiap risalah itu, kaum yang menentangnya. Di sinilah manusia diberi pilihan apakah akan memihak pada risalah atau tidak.

Masalah timbul ketika kaum yang sombong dan menentang risalah itu mengganggu orang lain yang sudah menetapkan pilihannya untuk memihak risalah. Di saat itulah perlu ada perjuangan (baca: jihad) untuk melawannya. Apalagi ketika kaum yang sombong itu memegang kekuasaan dan kemudian menghalangi penyampaian risalah kepada rakyatnya, maka tidak ada pilihan lain bagi para pembela risalah selain harus mengalahkan penguasa zalim itu sehingga da’wah bisa mencapai semua manusia.

Jadi, perangnya bukan letterlijk membela Tuhan. Tuhan tetap akan selalu menang di atas Arsy-Nya sambil melihat siapa hamba-Nya yang membela risalah-Nya dan siapa yang menghalangi risalah-Nya. Untuk kemudian di hari akhir dengan penilaian-Nya, Dia akan memiliki hujjah untuk memasukkan hambanya ke surga atau neraka.

Maka perjuangkan risalah-Nya Saudaraku, berjihadlah di jalan-Nya. Janganlah kalian menjadi takut dan lemah dengan celaan orang yang suka mencela.

Wallahul musta’an.