Setiap orang atau kelompok memiliki pemahaman kebenarannya sendiri-sendiri. Ahlussunnah mengatakan bahwa mereka benar dengan segala macam hujjahnya, Asy’ariyyin juga sama, Quburiyyin idem, Syiah begitu pula, Jamaah Tabligh juga, IM sama, HT sama pula, NII begitu pula, JIL juga, Al Qiyadah Al Islamiyah begitu pula, Salamullah begitu pula dst-dst.

Salah satu titik perbedaan pandangan kebenaran di antara mereka adalah bagaimana sikap mereka terhadap kelompok lain.

Terdapat kontinum panjang dalam masalah ini. Di ujung ekstrim yang satu adalah kelompok yang membenarkan setiap kebenaran di luar kelompoknya, tidak peduli apakah kelompok di luarnya itu kelompok pagan, musyrik, penuh maksiat ataupun kafir. Mereka adalah orang-orang yang terlalu terpesona dengan yang mereka anggap isoteris, dan mereka diwakili oleh para sufiyyin-sufiyyin ghullath.

Yang lebih ringan dari mereka adalah kelompok liberal semacam (tapi tidak terbatas pada) JIL. Mereka cenderung membenarkan semua kelompok di luar kelompoknya juga, namun mereka masih bisa memandang sebuah kemaksiatan (atau kerusakan atau anarkisme) sebagai sebuah kesalahan dan penyimpangan.

Kemudian yang lebih ringan lagi dari mereka adalah kelompok seperti (namun tidak terbatas pada) Jamaah Tabligh yang cenderung tidak menyalahkan penyimpangan-penyimpangan aqidah selagi orang atau kelompok lainnya itu masih mengucapkan syahadat atau dengan kata lain selama masih dalam lingkaran Islam. (actually, mereka memang tidak tertarik menda’wahkan aqidah yang tegas sebagaimana diajarkan Rasulullah. Mereka hanya tertarik untuk mengajarkan apa yang dianggap oleh mereka sebagai sunnah-sunnah Nabi. Padahal perkataan mereka tentang sunnah-sunnah Nabi juga tidak jauh-jauh dari qiila wa qoola yang mungkin benar dan mungkin salah yang tidak diucapkan dengan sanad yang bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan)

Setelah Jamaah Tabligh terdapat kelompok tradisionalis yang teguh dengan apa yang mereka sebut aswaja-nya. Penyimpangan aqidah dari kelompok-kelompok lain sudah mulai berani mereka babat habis. Namun mereka masih mengakomodasi hal-hal yang menurut kelompok yang lebih “keras” dianggap sebagai bid’ah.

Kontinum selanjutnya diisi oleh kelompok semacam (tapi tidak terbatas pada) IM atau tarbiyah yang sudah mulai mau mengucapkan kata-kata yang tegas terhadap penyimpangan kelompok-kelompok lain. Mereka sudah mulai mengenal kata-kata seperti bid’ah. Namun terkadang kelompok tarbiyah ini masih bisa mengakomodasi beberapa bid’ah (menurut terminologi kelompok yang lebih keras lagi sikapnya) apalagi kalau dikaitkan dengan usaha-usaha untuk merekrut simpatisan yang lebih besar lagi dalam pemilu. Mereka terkenal dengan slogannya “kita bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati dan bertoleransi dalam hal-hal yang tidak disepakati”.

Kelompok selanjutnya adalah para Salafiyyin. Mereka tegas terhadap semua perbuatan penyimpangan aqidah dan bid’ah, tapi mereka tetap memegang prinsip tidak mengkafirkan dan membid’ahkan seseorang secara mu’ayyan dan menyerahkan takfir dan tabdi’ pada ulama yang memang berhak.

Kelompok yang lebih keras lagi adalah kelompok seperti (tapi tidak terbatas pada) Haddadiyah yang selain bersikap tegas terhadap penyimpangan aqidah dan bid’ah, mereka juga tidak segan-segan memberi cap bid’ah pada ulama ahlussunnah yang diakui oleh kelompok sebelum ini (salafiyyin).

Dan yang paling terakhir di kontinum ini adalah kelompok takfiri semacam (tapi tidak terbatas pada) khawarij. Mereka tegas terhadap perbuatan (yang menurut mereka) penyimpangan aqidah, bid’ah dan maksiat serta tidak segan-segan memberikan cap kafir mutlak kepada pelaku penyimpangan-penyimpangan itu (walaupun penyimpangan itu hanyalah maksiat yang menurut kelompok lainnya tidak menjatuhkan pelakunya pada cap kafir).

Lalu mana di antara sikap-sikap di atas yang paling tawassuth dan benar yang seharusnya kita ikuti? Apakah sikap pertengahan itu bisa dilakukan hanya dengan semata-mata mendata seluruh kelompok dan menetapkan posisinya dalam kontinum sikap lalu menetapkan median-nya atau mean-nya atau modus-nya?

Tentu sikap ilmiah dalam pemahaman kebenaran agama tidaklah sebagaimana sikap ilmiah dalam statistik seperti itu.

Jika dapat diringkas, perbedaan-perbedaan sikap kelompok-kelompok di atas dapat kita bahas dari tiga sisi penyikapan: pertama, sikap terhadap kekafiran, kedua, sikap terhadap dosa (kemaksiatan), dan ketiga, sikap terhadap bid’ah.

Pertama, sikap terhadap kekafiran

Definisi istilah dari kekufuran yang diberikan para ulama terdapat sedikit perbedaan tekstual namun dapat disimpulkan dengan perkataan yang diberikan oleh Syaikh Abdurrahman AsSa’di sebagai berikut :”Definisi kekufuran yang mencakup segala jenisnya, macamnya, bagian-bagiannya adalah : Mengingkari apa yang dibawah oleh Rasulullah, atau mengingkari sebagiannya. Sebaliknya, keimanan adalah meyakini apa yang dibawa oleh Rasulullah dan menganutnya secara global maupun terperinci. Jadi, keimanan dan kekafiran itu bertolak belakang. Apabila salah satunya ada secara sempurna, maka yang lain akan hilang secara otomatis.” (Al Irsyad ila Ma’rifah Al Ahkam hlm 203, 204)

Terdapat beberapa syarat-syarat untuk mengkafirkan sebagai berikut:

1. Menghukumi secara zhahir (apa yang nampak saja)
Imam Asy-Syatibi menjelaskan : “sesungguhnya prinsip penetapan hukum atas dasar realitas (lahiriah) merupakan keharusan, khususnya hukum tentang masalah yang nampak. Adapun yang berkaitan dengan keyakinan orang secara umum (masalah yg tidak nampak – pen), maka manusia termulia (Rasulullah) meskipun ia diberitahu lewat wahyu, (tetap) beliau memandang setiap persoalan secara zhahir, seperti dalam masalah orang-orang munafik dan lainnya, meskipun beliau mengetahui kondisi (batin) mereka.

Dalil prinsip ini antara lain:
a. Firman Alloh: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Alloh, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan, ‘salam’ kepadamu: ‘Kamu bukan seorang Mukmin’ (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia.” (An Nisaa’ : 94)

b. Sabda Rasulullah : “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah selain Alloh, dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat. Maka jika mereka melakukan hal itu, mereka telah melindungi dariku darah-darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam dan perhitungannya pada Alloh.” (HR Bukhari dalam kitab Al Iman)

c. Kisah Usamah. Ia berkata, “Rasulullah mengutus kami dalam satu pasukan. Maka pada waktu pagi kami tiba di sebuah tempat di Juhainah. Kemudian saya menemui seseorang mengucapkan Laa ilaaha illallah, lalu saya membunuhnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati saya karena hal itu. Kemudian saya laporkan hal tersebut kepada Rasulullah, maka beliau bersabda, “Apakah ia mengatakan Laa Ilaaha Illallah lalu engkau membunuhnya?” Saya katakan, “Wahai Rasulullah, ia mengatakannya hanya karena takut dari senjata.” Rasul bersabda,”Apakah engkau membelah hatinya hingga engkau mengetahui bahwa ia mengatakannya atau tidak.” Maka beliau terus mengulang-ulang ucapannya, hingga aku berharap seandainya aku baru memeluk Islam pada hari itu.” (HR Muslim Kitab Al Iman)

d. Hadits tentang budak milik Mu’awiyah bin Al Hakam Assalami ketika bertanya kepada Rasulullah, “Apakah aku harus memerdekakannya?” Rasul bersabda, “Bawalah ia kepadaku!” Kemudian Rasul bertanya kepada budak tersebut, “Dimana Alloh?” Ia menjawab, “Di langit.” Rasul bertanya lagi, “Siapa aku?” “Engkau adalah utusan Alloh.” Rasul bersabda, “Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya ia seorang Mukminah.” (HR Muslim,Kitab Al Masajid)

2. Berhati-hati dalam menghukumi seseorang sebagai kafir
Secara ringkas dapat disebutkan bahwa mazhab yang benar menetapkan pengkafiran secara umum – seperti penetapan bahwa siapa yang menghalalkan sesuatu yang dikenal secara pasti dari agama (akan keharamannya), maka ia kafir; barang siapa yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk, atau bahwa Alloh tidak dilihat di akhirat, maka ia kafir.Sedangkan dalam menetapkan orang tertentu dengan hukum kafir harus terpenuhi banyak syarat, dan tiadanya penghalang. Dalam hal ini, orang tersebut melakukan perbuatan itu bukan karena jahil, mentakwil, dipaksa atau yang lainnya.

Terdapat beberapa nash dan praktek kaum terdahulu (salaf) yang menunjukkan pelarangan pengkafiran orang tertentu tanpa bukti sebagai berikut:
a. Sabda Rasulullah, “Jika seseorang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir!’ maka panggilan itu kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR Bukhari dalam kitab Al Adab)
Ancaman dan pencegahan ini berlaku jika orang yang mengkafirkan tidak memiliki bukti, seperti disebutkan oleh Al Qurthubi, (sebagaimana disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/466) dan dia tidak mentakwil. Di dalam fiqh Al Bukhari adalah menempatkan hadits ini pada Bab “Siapa yang Mengkafirkan Saudaranya Tanpa Takwil Maka Ia seperti Apa yang Ia Katakan”. Untuk kemudian setelah itu ia menyebutkan bab lain dengan judul “Orang yang Berpendapat Tidak Kafirnya Seseorang yang Mengatakan Hal Tersebut karena Mentakwil atau Tidak Tahu”

b. Abu Dawud dalam Sunannya pada kitab Al Adab, bab Larangan melakukan penyimpangan menyebutkan riwayat dari Abu Hurairah, “Aku mendengar Rasululah bersabda, “Terdapat dua orang dari kalangan Bani Israil yang bersaudara. Salah satunya pendosa dan salah satunya ahli ibadah. Si ahli ibadah terus menerus melihat si pelaku dosa berada dalam dosa, ia pun berkata: ‘Kurangilah (dosamu)!’ Suatu ketika ia melihatnya melakukan dosa, maka ia berkata padanya, ‘Kurangilah!’ Ia menjawab, ‘Biarkanlah aku dengan Tuhanku, apakah engkau diutus sebagai pengawas terhadapku?’ Ia berkata, ‘Demi Alloh, Alloh tidak akan mengampunimu, atau Alloh tidak akan memasukkanmu ke dalam Surga.’ Lalu ruh keduanya dicabut (wafat), kemudian keduanya berkumpul di hadapan Alloh. Maka Alloh berkata kepada orang yang giat beribadah ini, ‘Apakah engkau lebih mengetahui dari-Ku? Ataukah kamu memiliki kuasa terhadap apa yang ada di Tangan-Ku?’ Lalu Alloh berfirman kepada orang yang berdosa, ‘Pergilah dan masuklah ke dalam Surga dengan rahmat-Ku.’ Dan berkata kepada si ahli ibadah, ‘Pergilah dan masuklah ke dalam Neraka’.” Abu Hurairah berkata, “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, si ahli ibadah itu mengucapkan suatu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.,” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al Adab, dihasankan oleh Ibnu Abil Izz dan Al Albani)

Walaupun terdapat dalil yang melarang pengkafiran tanpa bukti sebagaimana disebutkan di atas, namun banyak juga terdapat bukti praktek pendahulu kita yang sholeh (dimana mereka lebih memahami agama ini daripada kita) yang menunjukkan bahwa pengkafiran tetap harus dilakukan jika memang telah terpenuhi semua syarat pengkafiran dan tidak adanya penghalang pengkafiran, antara lain:
a. Para shahabat Rasulullah memerangi Bani Hanifah, padahal mereka telah masuk Islam bersama Nabi dan bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Mereka mengumandangkan adzan dan melaksanakan shalat. Jika ia berkata: Sesungguhnya mereka berkata bahwa Musailamah adalah Nabi, maka katakanlah: “Inilah yang dibutuhkan (sebagai hujjah – ed). Apabila orang yang mengangkat seseorang pada derajat Nabi dihukumi kafir, halal harta dan darahnya serta tidak bermanfaat baginya dua kalimat syahadat dan shalat, maka bagaimana dengan orang yang mengangkat Syamsan atau Yusuf, atau shahabat atau Nabi kepada kedudukan Penguasa langit dan bumi?”

b. Shahabat Ali pernah membakar orang-orang yang telah dikafirkan para shahabat. Padahal mereka mendapatkan ilmu dari para shahabat, tapi mereka meyakini pada diri Ali seperti keyakinan terhadap Yusuf. Maka para shahabat pun sepakat untuk memerangi dan mengkafirkan mereka?

3. Pengkafiran dan hukuman dilakukan setelah tegaknya hujjah
Dalilnya antara lain:
a. Firman Alloh: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al Isra’:15)

b. Firman Alloh: “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan memberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Alloh sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (An Nisaa’:165)

c. dll

4. Tidak mengkafirkan dengan semua jenis dosa
Islam tidak mengkafirkan seseorang dari ahli kiblat (kaum Muslimin) Karena suatu dosa tertentu selama ia tidak menganggapnya halal.

Penafian pengkafiran secara umum kadang difahami dengan tidak mengkafirkan orang tertentu secara mutlak, apa pun dosa yang ia lakukan, meskipun ia melakukan perbuatan yang membatalkan (keimanan). Adapun menafikan keumuman, maka difahami darinya bahwa mereka dikafirkan dengan sebagian dosa, dan tidak dikafirkan dengan sebagiannya. Di antara dosa yang mengkafirkan pelakunya adalah pembatal-pembatal keislaman yang besar. Adapun dosa-dosa yang tidak dikafirkan dengannya, yakni melakukan dosa-dosa besar, dan meninggalkan kewajiban, selama ia tidak menganggap halal dosa-dosa besar, atau mengingkari kewajiban-kewajiban.

Pembahasan kedua, tentang sikap terhadap dosa (kemaksiatan):

Dosa itu dibagi menjadi dosa kecil dan dosa besar dengan beberapa dalil sebagai berikut :
1. Alloh berfirman : “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil.” (An Nisaa: 31)

2. Alloh berfirman : “(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil.” (An Najm : 32)

3. Sabda Rasulullah : “Shalat lima waktu (yang dilakukan), Jumat hingga Jumat, dan Ramadhan hingga Ramadhan, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya (waktu tersebut) jika dosa-dosa besar dijauhi.” (HR Muslim dalam kitab Thaharah)

4. dll

Hukum pelaku maksiat dosa besar dari segi nama adalah Mukmin yang kurang keimanannya. Disebut juga, ia beriman dengan imannya, fasiq akibat dosa besar yang ia lakukan, namun ia tidak keluar dari keimanan. Dalilnya adalah:
1. Firman Aloh: “Maka barangsiapa yang mendapatkan pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik.” (Al Baqoroh : 178)
Alloh menjadikan orang yang terbunuh sebagai saudara bagi orang yang membunuh. Seandainya ia telah keluar dari keimanan, tentulah orang yang dibunuh tidak disebut sebagai saudara baginya.

2. Firman Alloh tentang dua kelompok sesama Muslim yang sedang bertikai: ”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. (Al Hujurat : 9) sampai pada firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.” (Al Hujurat : 10)

Alloh menyebut dua kelompok yang saling berperang, meskipun melakukan perbuatan dosa besar,s ebagai saudara bagi kelompok ketiga yang mendamaikan keduanya.
Pelaku dosa-dosa besar tidak murtad. Berbagai nash secara mutawatir menunjukkan tidak kafirnya pelaku dosa besar dan tidak kekalnya ia dalam Neraka jika ia masuk ke dalmnya, selama ia tidak menghalalkannya. Dalil-dalilnya :
1. “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An Nisaa’: 48)
Di sini Alloh menghukumi bahwa syirik tidak diampunkan bagi orang-orang musyrik. Maksudnya, jika ia mati dan belum sempat bertaubat. Dalilnya adalah firman Alloh : “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Alloh akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu’.” (Al Anfal: 38)

2. Diriwayatkan oleh Muslim sebuah hadits qudsi dari Abu Dzar dari Nabi : “… dan barangsiapa yang menemui-Ku dengan sepenuh bumi kesalahan dan ia tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi.”(HR Musli dalam kitab AdzDikr waddu’a)

3. Hadits Abu Dzar dari Nabi : “JIbril dating padaku membawa kabar gembira bahwa barangsiapa yang mati dari umatmu dan ia tidak menyekutukan Allohdengan sesuatu apapun, maka ia pasti masuk Surga. Aku bertanya, ‘Meskipun ia berzina atau mencuri?’ Nabi menjawab ‘Meskipun ia berzina atau mencuri.’.”

4. Hadits Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata, Dulu aku pernah bersama Rasulullah dalam satu majelis maka beliau bersabda : “Kalian membaiatku agar kalian tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu, kalian tidak berzina, mencuri, dan tidak membunuh jiwa yang telah Alloh haramkan kecuali dengan cara yang benar. Siapa yang memenuhi baiat ini maka pahalanya dari sisi Alloh, dan siapa yang terjerumus ke dalam salah satu perbuatan itu, lalu ia dihukum, maka hukuman itu adalah kaffaroh (penghapus) baginya. Dan siapa yang terjatuh dalam perbuatan dosa itu, lalu Alloh menutupinya maka urusannya terpulang kepada Alloh, jika Dia berkehendak, Dia akan ampuni, dan jika tidak, maka Dia akan menyiksanya.”

Pembahasan ketiga, tentang sikap terhadap bid’ah:

Telah tampak jelas dari berbagai nash Al Qur’an dan Assunnah bahwa pengikut bid’ah dan aliran sesat terbagi dalam dua kelompok. Pertama, kelompok yang tidak tahu bahwa ia disesatkan dan ditipu. Pemimpin dan tokoh-tokoh mereka yang mengaburkan ajaran, seolah mereka dalam kebenaran dan apa yang mereka serukan adalah Islam yang benar. Mereka ini harus disikapi dengan lemah lembut dan dengan menjelaskan kebenaran kepada mereka, memberi petunjuk, bimbingan, dan nasihat yang baik.

Kelompok kedua adalah orang yang telah mengetahui kebenaran kemudian mengingkarinya, lalu mereka mengikuti hawa nafsu dengan cara mengingkari dan tidak mau menerima kebenaran (mereka disebut dengan Ahli bid’ah), maka mereka ini harus dilawan, diwaspadai, dihadapi untuk membongkar kesesatannya,dan diajak berdialog. Sekelompok dari kalangan ulama harus bangkit menyingkap kesesatan mereka dan menjawab mereka agar Alloh membedakan antara yang busuk dan yang baik.

Di antara prinsip pokok Islam adalah mengajak bersikap waspada terhadap ahli bid’ah.Ini terwujud dengan mencela, memboikot dan memperingatkan umat akan bahaya mereka, melarang untuk menghadiri majelis mereka, menemani dan berdebat dengan mereka, dan lainnya. Inilah yang dapat diringkas dari perkataan para ulama seperti Imam Ahmad, Imam Hasan Al Bashri, Imam Ibnul Mubarak, Abu Qilabah, Imam Ash Shabuni, Qadhi Abu Ya’la, Imam Baghawi dan lain-lain.

Namun begitu terdapat beberapa prinsip dan aturan yang harus diperhatikan:
1. Bid’ah memiliki banyak tingkatan, di antaranya ada yang dapat mengantarkan pada kekafiran,ada juga yang di bawah itu. Ada bid’ah hakiki, ada juga bid’ah idhafiyah (tambahan). Cara menyikapinya berbeda-beda sesuai dengan tingkatan bid’ah itu sendiri.

2. Islam membedakan antara orang yang mengajak bid’ah dan yang tidak, antara orang yang terang-terangan dan orang yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

3. Bid’ah berbeda-beda dari segi kejelasannyaatau tingkat sulit-mudahnya dipahami. Pelakunya itu berijtihad atau bertaklid. (Kitab Al I’tisham 1/172 dan 146)

4. Bid’ah juga berbeda-beda dari segi apakah pelakunya melakukan secara sengaja atau tidak sengaja, karena faktor khilaf atau kekeliruan ulama dalam berijtihad, lali ia tidak mengulanginya lagi. (Kitab Al I’tisham 1/174)

5. Selain itu boikot dan menampakkan permusuhan dibedakan antara tempat-tempat yang banyak bid’ahnya sehingga mereka memiliki kekuatan dan pemerintahan dengan tempat di mana Assunnah memiliki kekuatan.
Jika yang menang dan tampak adalah Ahlussunnah, maka yang disyariatkan adalah memboikot ahli bid’ah sesuai dengan prinsip yang berlaku. Jika kekuatan dan jumlah yang banyak di tangan ahli bid’ah – tak ada daya dan kekuatan kecuali hanya miliki Alloh – sehingga tidakada ahli bid’ah atau lainnya yang dapat berubah menjadi baik dengan jalan boikot. Jika tidak tercapai tujuan syariat, maka tidak disyariatkan boikot. Yang harus ditempuh adalah penyatuan hati,karena khawatir akan bertambahnya keburukan. (Hajr Al Mubtadi’ hlm 45)

6. Islam mencela ahli bid’ahd an menyuruh mewaspadai mereka, tapi tidak melarang menyebut sebagian hal-hal yang positif dari mereka seperti jihad danlainnya. Mereka juga membantah golongan yang lebih besar penyimpangannya seperti bantahan Asy’ariyah terhadap Mu’tazilah dan bantahan Mu’tazilah terhadap ahli filsafat, dan seterusnya.

7. Demikian juga, celaan dan boikot tidak menghalangi untuk mengakui kebenaran perkataan,sikap zuhud dan ibadah pada mereka. Karena itu, ahli hadits menerima riwayat ahli bid’ah ayng tidak mengajak pada bid’ahnya jika terpenuhinya syarat-syarat periwayatan yang dikenal, disertai syarat-syarat khusus.

8. Selain itu, jika terdapat kebutuhan atau keperluan untuk berdiskusi dan berdebat dengan mereka – seperti dikhawatirkan akan terjadinya fitnah di kalangan awam, atau mereka puas dengan bantahan terhadap syubhat – maka disyariatkan diskusi dalam kondisi ini.

9. Terakhir, harus diketahui bahwa masalah memboikot ahli bid’ah dibangun di atas kaidah Islam yang agung, al wala’ dan al bara’. Karena itu, pelaku bid’ah yang bid’ahnya tidak mengkafirkan, maka ia tidak dimusihi dari segala segi seperti orang kafir, tapi ia dimusihi dan dibenci sesuai dengan bid’ahnya dan dicintai serta ditolong sesuai dengan keimanan yang ia miliki.

Secara singkat penjelasan tentang sikap terhadap bid’ah dan ahli bid’ah adalah : Bahwa prinsip dasar dalam syariat adalah memboikot ahli bid’ah,tapi tidak secara umum dalam setiap kondisi dari setiap orang dant idak kepada setiap ahli bid’ah. Tetapi tidak melakukan pemboikotan secara total kepada ahli bid’ah adalah sikap yang berlebihan. Karena memboikot ahli bid’ah adalah kewajiban syar’i yang diketahui kewajibannya lewat nash dan ijma’. Dan bahwa disyariatkannya boikot ini, haruslah selalu dalam koridor prinsip-prinsip syariat yang dibangun dengan memperhatikan kemaslahatan dan mencegah kerusakan. Yakni harus memperhatikan jenis bid’ah itu sendiri, serta siapa pelakunya, kondisi pelaku pemboikotan, tempat, kemampuan dan kelemahannya, seta segi sedikit banyaknya jumlah pelaku pemboikotan tersebut. (Hajr Al Mubtadi’ hal 41)

Demikianlah sedikit penjelasan mengenai kekafiran, dosa dan bid’ah. Semoga dengan penjelasan tersebut di atas, para pembaca – yang tentunya menghendaki terang-benderangnya kebenaran – bisa mengikuti pemahaman yang benar. Saya tidak akan menuliskan kesimpulan saya mengenai kelompok mana di antara kelompok-kelompok di atas yang paling benar. Bukan karena saya tidak memiliki kesimpulan, tapi karena saya masih cenderung untuk tidak membuka perdebatan baru yang mungkin malah akan menebarkan syubhat ke dalam diri saya – yang ilmunya masih cethek ini.

[Saya banyak nyontek dari buku Muzilul Ilbas]