Kadang-kadang saya menjumpai beberapa teman saya berprinsip “ngaji jangan di satu tempat aja”, “ngaji ke mana aja asal Islam” atau “ngajilah ke beberapa ustadz (even yang berbeda harokah) sehingga wawasan lebih terbuka, tidak picik, dst, dst”. Tidak jarang mereka membumbuinya itu dengan perkataan “hikmah itu adalah barang temuan orang mukmin, di mana saja dia menemukannya, maka dia yang paling berhak atasnya”.

Padahal seharusnya mereka memahami juga arti perkataan (yang sering teman-teman saya tersebut ungkapkan juga) “Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.”

Jadi yang paling penting sebenarnya bukanlah sekedar mendiversifikasikan pengajian kita, namun terlebih penting lagi adalah kita bisa mengenal kebenaran terlebih dahulu.

Inilah yang bisa kita tanyakan pada pihak-pihak yang semata-mata berprinsip ‘ngaji di mana saja asal Islam’, apakah mereka sudah mengenal kebenaran sehingga “berani-beraninya” mereka ngaji di mana-mana. Yang ditakutkan apabila mereka ternyata memang belum mumpuni untuk mengenal kebenaran, maka yang akan dijadikan standar adalah (selera) dirinya sendiri (atau selera kelompoknya).

Dalam proses mengenal kebenaran itulah, kita harus menuntut ilmu dari sumber dan metode yang benar, yaitu dari sumber Al Qur’an dan Assunnah dengan metodologi sebagaimana salafusshalih memahami. (masalah setelah itu banyak pembahasan dan khilaf pendapat itu masalah lain).

Saya jadi teringat tulisan ustad Abu Faris dalam blog-nya bahwa “terdapat perbedaan yang signifikan antara menerima kebenaran dari mana saja dan menimba ilmu (belajar/berguru) dari mana saja.” Kalo menerima kebenaran memang bisa dari mana saja, tapi kalo menimba ilmu (i.e. belajar memahami mana yang benar dan mana yang salah) itu gak boleh sembarangan.

Wallahu a’lam