Tulisan ini sebenarnya merupakan klarifikasi dari tulisan sebelumnya.

Pas nulis tentang big bang, aku sebenarnya sudah mbatin, “perasaan ada yang salah… Tapi di mana ya?”. Aku merasa bahwa usahaku untuk mengkaitkan dialektika tentang big bang dengan perseteruan materialisme vs teisme seperti tidak berdasar dan hanya merupakan usaha otak atik gathuk saja. Lagian ketika aku mencoba menerapkan pengkaitan semacam itu kepada hubungan antara dialektika tentang evolusi dengan perseteruan materialisme vs teisme kok gak nyambung juga. Malah hasilnya akan kontra dengan kesimpulan sementaraku yang mendukung teori evolusi dari sisi ilmiah.

Alhamdulillah, pas ngobrol di ym sama dek anton william (lha dia manggil aku mas, berarti aku manggil dia dek, dong) tiba-tiba terlintas ilham. Walaupun sebenarnya ilhamnya cuma sederhana dan sebenarnya cuma kayak common sense, tapi yah…, nyatanya pas nulis tentang big bang sebelumnya aku khilaf. Jadi gini…

Ternyata antara sejarah perkembangan big bang dan pertentangan seumur hidup antara materialisme vs teisme tidak berkorelasi secara linear. Materialist vs teist tetap berdialektika terus menerus dari dulu ilaa yaumil qiyamah, sementara ilmu pengetahuan juga terus menerus memberikan teori-teorinya (atau menyempurnakan teori-teori lama) sesuai dengan penemuan-penemuan fakta-fakta empiris baru.

Yang mungkin terjadi adalah bahwa baik kaum materialist maupun teist memanfaatkan perkembangan-perkembangan teori ilmu pengetahuan untuk mendukung pendapatnya, misalnya:

– Ketika tidak ditemukan bukti ilmiah bahwa alam semesta tercipta, serta merta kaum materialis mengaku bahwa alam semesta ini tidak tercipta dan tidak berakhir, ada begitu saja tanpa ada pencipta.

– Ketika ditemukan bukti ilmiah bahwa alam semesta tercipta, dengan serta merta kaum agamawan berseru bahwa big bang inilah bukti bahwa Sang Pencipta itu ada.

– Ketika ditemukan bukti teoritis bahwa dalam singularitas, ruang waktu melengkung tak berujung, maka kaum materialis berseru bahwa big bang bukanlah awal alam semesta dan bukan bukti bahwa alam semesta ini tercipta.

– Ketika ditemukan bukti ilmiah berbagai macam fosil yang nampak seperti berubah seiring waktu dan para ilmuwan mengemukakan teori evolusi, dengan serta merta kaum materialis berkoar-koar bahwa alam semesta ini mampu mengatur dengan sendirinya dan memiliki mekanismenya sendiri untuk keberlangsungan dirinya sendiri tanpa campur tangan Sang Pencipta.

– Ketika diketahui adanya kebohongan dari penemuan fosil piltdown, dengan serta merta orang-orang yang nampak agamis mengaku telah berhasil “meruntuhkan” teori evolusi. (padahal apa sih, dosa sebuah teori? Kalau kaum materialis sih, memang mungkin banyak dosanya, tapi – sekali lagi – apa sih, dosa sebuah teori yang telah susah payah coba dibangun dari fakta ilmiah?)

Terkait dengan tulisan sebelumnya berarti dapat disimpulkan bahwa :

Sebenarnya teori kosmologi tentang penciptaan alam semesta (memang) akan terus berkembang (baru atau penyempurnaan teori yang lama) seiring ditemukannya fakta-fakta baru. 

Dalam hal ada kaum materialis atau agamis yang memanfaatkan perkembangan teori itu untuk mendukung pendapatnya, maka dunia ilmiah berlepas diri dari fenomena tersebut.

Gitu deh…

Eh ada NB-nya : Mungkin ada yang berkata bahwa ‘ilmuwan-juga-mungkin-tidak-bebas-nilai’ (yaitu: seorang ilmuwan mungkin saja sekaligus memiliki faham materialis atau agamis).

Untuk menjawabnya, jangan dilupakan satu kaidah penting dalam ilmu pengetahuan bahwa semua orang dan semua (yg mengaku) ilmuwan bisa mengatakan apa saja. Tapi…, semuanya akan diuji dengan fakta empiris di lapangan. Kalau fakta membenarkan teorinya, maka teorinya benar. Dan sebaliknya…

Sama juga dengan metodologi pembuatan fatwa dalam Islam. Semua orang dan semua (yang mengaku) ulama bisa mengatakan apa saja. Tapi…, semuanya akan diuji dengan dalil-dalil Al Qur’an dan Assunnah yang difahami dengan metodologi pemahaman para shalafussalih. Jika dalil dan pemahaman atas dalil itu membenarkan fatwanya, maka fatwanya itu benar. Dan sebaliknya…

Sebenarnya kalo ngomong komparasi antara ilmu pengetahuan dan agama pembicaraan bisa jadi panjang lebar (coba bayangin kalau fakta ilmiah tidak mendukung sebuah teori yang telah diuji dan dibenarkan dengan dalil-dalil Al Qur’an dan Assunnah, gimana cara memahaminya kalo gitu?). Tapi karena susahnya masalah tersebut… maka bahts-nya akan dilakukan di artikel lain (insya Alloh).

Sekian dulu…