[yang dimaksud dengan materialisme adalah pandangan yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apa pun selain materi]

Materialisme mengatakan bahwa alam semesta bukan sesuatu yang diciptakan. Alam semesta ada begitu saja tanpa awal karena memang ada dan akan tetap ada sampai kapanpun. Pandangan alam semesta statis seperti inilah yang mendominasi sampai abad 19 di kalangan ilmuwan dan filosof. Tidak ada ilmuwan (bahkan yang agamis sekalipun) dengan alat-alat dan penalaran saat itu, yang sanggup mencari bukti-bukti ilmiah untuk menentang pendapat para materialis tadi.

Di lain pihak pihak agamawan pun tetap mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan. Dan dalil mereka hanyalah kitab suci dan common sense (fitrah) semata.

(kasihan sekali ilmuwan yang agamis, ya? Sisi agamis mereka mengatakan bahwa alam semesta ini tercipta, tapi di lain sisi mereka tidak menemukan bukti ilmiah untuk mendukung keyakinan mereka tersebut)

Namun keadaan mulai berbalik ketika di awal abad 20 ditemukan fenomena redshift (pergeseran ke arah spektrum dengan panjang gelombang yang lebih panjang) dari galaksi-galaksi. Redshift menunjukkan bahwa jarak galaksi-galaksi tersebut ke galaksi kita menjauh. Selain itu ditemukan juga bahwa antar galaksi ke galaksi lainnya (selain galaksi kita) juga saling menjauh.

Fakta bahwa galaksi-galaksi saling menjauh (dan oleh karenanya alam semesta mengembang) ini bertentangan dengan teori sebelumnya yang menyatakan bahwa alam semesta dalam keadaan statis.

Namun lebih dari itu, jika fakta pengembangan alam semesta ini dirunut ke belakang, akan memberi makna bahwa: seluruh alam semesta ini pada awalnya berasal dari satu titik. Dan jika berasal dari satu titik (yang bervolume 0 dan kerapatan tak terhingga), berarti alam semesta memiliki awal. Dan karena alam semesta memiliki awal maka alam semesta ini pasti tercipta. (Bagi orang yang beriman tentunya ini menjadi bukti adanya Sang Pencipta)

Bahkan pada tahun-tahun selanjutnya ditemukan bukti-bukti lain yang semakin memperkuat teori big bang yaitu: penemuan radiasi latar belakang kosmis (yg bisa disebut sebagai fosilnya big bang), dan perhitungan komposisi hidrogen dan helium di alam semesta.

Dengan semua bukti tersebut, maka big bang menjadi teori yang dipilih sebagai pendapat utama jumhur ilmuwan. Dan dengan demikian tersingkirkanlah dominasi pendapat alam semesta statis yang sering dikaitkan dengan materialisme.

Namun apakah dengan runtuhnya pendapat alam semesta statis itu lantas orang berbondong-bondong pergi ke Tuhan? Nggak juga. Suatu pendapat ilmiah bisa muncul dan surut, namun hidayah… siapa yang tahu. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa dengan kemenangan big bang itu, orang-orang lantas mendapat hidayah.

Boleh jadi pendapat big bang memang tak terbantahkan saat ini, namun hal tersebut bukanlah halangan bagi kaum materialis untuk membuat teori-teori baru yang – walaupun tetap mengakui big bang – tapi tetap mendukung pandangan materialis mereka.

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa big bang yang terjadi 13,7 milyar tahun lalu bukanlah “awal” absolut alam semesta. Namun hanya salah satu “awal” dari “awal” yang jumlahnya tak terhingga atau hanya salah satu big bang dari big bang yang jumlahnya tak terhingga. Jadi secara sederhana pendapat ini menyatakan bahwa alam semesta selalu ada (seperti pendapat materialisme klasik), namun tidaklah statis namun mengembang dengan big bang dan mengkerut lagi sampai terjadi big crunch (kebalikan big bang) kemudian big bang lagi kemudian big crunch lagi dan seterusnya seperti itu dari dulu tak terhingga sampai kapanpun tak terhingga.

Di antara mereka ada yang mempertanyakan peranan Sang Pencipta dan menganggap terjadinya big bang dan kejadian-kejadian selanjutnya sebagai urut-urutan kebetulan semata.

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa singularitas (kondisi volume 0 dan kerapatan tak terhingga) yang terjadi sebelum big bang bukanlah awal semesta. Hal ini karena singularitas hanya merupakan lengkungan ruang dan waktu (dan bukan awal dari waktu).

Jadi intinya adalah, bahwa ternyata pembuktian “telak” terjadinya big bang bukanlah jaminan kekalahan materialisme.

Akhirnya semua kembali kepada keimanan orang-orang di balik segala macam teori tersebut. Jika dia seseorang yang beriman, maka pembuktian big bang merupakan wasilah baginya untuk meningkatkan keimanan. Namun jika dia bukanlah orang yang mempercayai Tuhan Sang Pencipta, maka pembuktian big bang hanyalah awal untuk mengemukakan teori-teori materialisme lain yang tentunya “sangat ilmiah”.

************* 

Sumber
“Misteri Lubang Hitam”, Yusman Wiyatmo M.Si terbitan Pustaka Pelajar
“Alam Semesta for Beginner”, Felix Pirani dan Christian Roche terbitan Mizan
“Astronomi”, Robbin Herrod terbitan Erlangga