Judulnya keliatannya puitis. Kayaknya aku bakal nulis prosa atau puisi indah…

Tapi Anda salah…. Aku bener-bener pingin nulis (kuusahakan secara ilmiah) bagaimana seandainya kita bisa mengamati cahaya melaju.

Pertama, kita pegang postulatnya einstein: cahaya jika ditinjau dari manapun kecepatannya selalu menunjuk pada satu harga yaitu c.

Nah, kalo kecepatan cahaya sama untuk seluruh dimensi ruang-waktu dan sama jika dilihat dari dimensi ruang-waktu mana saja, maka berarti ruang waktu akan menjadi relatif. Artinya bisa saja kita melihat ruang di kerangka pandang kita berbeda dengan ruang di kerangka pandang lain. Padahal orang yang di kerangka pandang lain itu udah merasa bikin ruang sama ukurannya sama kita. Begitu pula dengan waktu.

Dari sinilah muncul yang disebut dengan dilatasi waktu dan kontraksi lorentz. Dilatasi waktu adalah mengkeretnya waktu orang yg relatif bergerak menurut orang yang relatif diam (ini bukan definisi resmi lho… cuma definisi menurut kata pribadiku aja)

Kalo kontraksi lorentz adalah mengkeretnya ruang menurut orang yang relatif bergerak.

Atau daripada ngurusin definisi yg aku sendiri belibet mending pake contoh:

Dilatasi waktu dan kontraksi lorentz contohnya begini: si Zaid naik pesawat dengan kecepatan tinggi yg mendekati kecepatan cahaya ke bintang x yang jaraknya 10 milyar km. Ternyata setelah bergerak dengan kecepatan penuhnya, si Zaid melihat jaraknya ke bintang x nggak lagi 10 milyar km tapi mengkeret jadi 4 milyar km. Ini disebut kontraksi lorentz.

Dan tentunya karena jaraknya mengkeret, dia juga merasa perjalanan ke sono jadi lebih cepet alias waktu tempuhnya mengkeret. Ini disebut dilatasi waktu. Tapi sebenarnya menurut si Zaid waktu sih tetep berjalan normal-normal saja. Yang terasa banget adalah ketika si Zaid balik ke bumi. Ternyata Zaid jadi lebih muda beberapa tahun dibandingkan dengan teman sepantarannya. Zaid merasakan waktu berjalan seperti biasa, teman sepantarannya juga merasakan waktu berjalan seperti biasa, tapi hasil akhirnya ternyata si Zaid yang berkelana dengan kecepatan tinggi bisa lebih muda beberapa tahun.

Gak kebayang kah? Aku sendiri belum begitu paham juga. Dan itu wajar, hanya orang-orang tertentu saja yang paham relativitasnya Einstein ini. Pada masa Einstein aja cuma ada tiga orang yg bisa paham teorinya Einstein ini: si Einstein sendiri, Eddington sama Chandrasekhar (org India).

Tapi relativitas ini sekarang sudah terbukti, lho. Sudah ada percobaan dengan membawa jam atom pake pesawat keliling bumi. Ternyata pas sudah mendarat jam atom yg ditinggal di bumi menunjukkan waktu yang mendahului jam yang ditinggal dibawa terbang. Emang mendahuluinya gak seberapa jauh sih (menurut ukuran detikan kita) tapi lumayan juga untuk membuktikan teorinya si Einstein tersebut.

Nah sekarang, kembali ke judul tulisan. Bagaimana dengan cahaya ketika melaju. Apakah melajunya seperti melajunya ombak, melaju dari pulau yang jauh ke pulau lain, melaju melintasi ruang dan waktu. Dengan kadang ada beberapa surfer yang menumpang arusnya ikut bergerak melintasi ruang dan waktu.

Ternyata secara teoritis gak seperti itu. Cahaya yang datang dari objek yang berjarak 13 miliar tahun cahaya dari bumi menurut kita yang ada di bumi akan sampai dalam waktu 13 miliar tahun. Tapi menurut cahaya itu sendiri waktu yang ditempuh bukan 13 miliar tahun dan jarak yang dilalui bukan 13 miliar tahun cahaya tapi… tidak ada.

Tidak ada jarak yang dilalui dan tidak waktu yang ditempuh. Pokoknya nyampe aja. Dan begitulah…, ruang waktu telah terlipat di hadapan cahaya.