(Pernah baca artikel “Mengapa Harus Salafiy” dari Syaikh Nashir rahimahullah atau buku “Mengapa Manhaj Salaf” dari Syaikh Salim hafidhahullah? Nah, artikel saya ini adalah versi orang awam sekaligus versi lokal dari artikel “serius, penuh ilmu, dan internationally accepted”-nya Syaikh-syaikh tersebut)

Mungkin ada sebagian pihak yang bertanya-tanya: mengapa fai – yang aktivis jamaah x sekaligus kader sebuah partai y – tiba-tiba kok, memutuskan untuk menjadi salafiy? Padahal jamaah x adalah jamaah yang begitu widely accepted di masyarakat dan partai y juga sedang ngetren-ngetrennya. Sementara salafiy…. , jamaah apaan tuh? gak terkenal. Dan kalaupun terkenal, paling terkenal karena ulah orang-orangnya yang keras, kaku, jumud, tekstualis, gak tau fiqh waqi’, gak solider sama umat Islam lain, suka membid’ah-bid’ahkan, suka mengkafirkan, dan suka gontok-gontokan sama jamaah-jamaah lain plus suka meng-hajr temennya sendiri. Terus ngapain juga si fai jadi salafiy?

Itu kata orang…

Nah, sekarang marih kita bahas, kenapa saya akhirnya menjadi salafiy…

Keputusan saya ini tidak lepas dari faktor kekurangan jamaah x serta kelebihan salafiy. Namun saat ini  saya hanya tertarik untuk bercerita tentang kelebihan salafiy (kekurangan jamaah x-nya kapan-kapan aja ‘kali)

Pertama kita harus memahami kondisi umat Islam saat ini yang berpecah belah. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang buta. Pokoknya gak perlu pakai hadits perpecahan pun sudah jelas kelihatan bahwa umat Islam saat ini berpecah belah. Ada yang ikut jamaah x, ada sekte y, ada partai abc, ada hizb d, dan begitu seterusnya. Dan masing-masing jamaah, sekte, partai, hizb dst berusaha agar seluruh umat masuk ke kelompok mereka dan berusaha agar kelompok mereka dapat menang dan unggul dari kelompok lain.

Menghadapi kondisi umat Islam yang berpecah belah tanpa ada kesatuan kepemimpinan dan jamaah ini, ternyata Rasulullah telah memberikan jalan keluarnya, yaitu pada sebuah hadits dari Hudzaifah yang ada di shahih Bukhari dan Muslim : Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”[1]

Firqah itu adalah semua kelompok, jamaah, sekte, partai[2]. Berarti saat ini kita gak boleh ikut atau masuk menjadi anggota maupun simpatisan kelompok Islam, jamaah, partai apapun.

Selain tidak boleh masuk ke kelompok apapun, kita juga diharuskan untuk “menggigit pokok pohon”. Apa maksudnya?

Nah, untuk arti menggigit pokok pohon ini, kita bisa melihat ke hadits lain yaitu hadits Irbaad bin Saariyah yang artinya : “Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu: Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.”[3]

Luar biasa sekali isi hadits di atas (sama luar biasa dengan konteks hadits di atas yang bisa membuat para shahabat sampai menangis). Hadits tersebut memberi petunjuk yang jelas dalam menghadapi perpecahan dan perselisihan dalam umat Islam. Rasulullah memerintahkan kita agar berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudah Rasulullah dan untuk menghindari bid’ah.

Apabila dihubungkan antara hadits Hudzaifah dan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, maka kita memperoleh kesimpulan bahwa : Pada saat banyak perpecahan dan perselisihan, maka kita diperintahkan untuk meninggalkan semua firqah, semua kelompok, semua jamaah, semua sekte, semua partai untuk kemudian memegang teguh Sunnah Nabi yang mulia dan Sunnah Khulafaur Rasyidin serta menghindari bid’ah.

Lalu apa kaitannya kewajiban meninggalkan semua firqah dan berpegang teguh pada sunnah dengan salafiy? Bukankah salafiy juga kelompok juga dan bukankah semua kelompok juga berpegang teguh pada sunnah?

Pertanyaan ini akan membawa kita pada segmen berikutnya pembahasan kita yang tidak kalah seru kalau dibandingkan segmen pertama.

Teks-teks Al Qur’an dan Assunnah sudah terhidang di depan kita. Tinggal bagaimana kita bisa memahami dan mengamalkan teks-teks tersebut agar sesuai dengan keinginan Syari’ (Pembuat Syari’at).

Tentunya kita sudah sepakat bahwa kita tidak akan memakai metodologi liberal dalam memahami dan mengamalkan teks-teks Al Qur’an dan Assunnah seperti metodologi firqah Islam liberal, dimana tafsir atas teks hanya didasarkan atas akal. Kita akan memakai metodologi yang telah dipakai oleh ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepanjang masa.

Metodologi pemahaman dan pengamalan ini dapat kita ketahui jika kita telah menyepakati bahwa salafusshalih-lah yang pemahaman dan pengamalan agamanya paling benar setelah Rasulullah.

Yang disebut dengan salafusshalih (pendahulu yang shalih) adalah para shahabat, tabiin dan tabiuttabiin.

Mengapa kita bisa menyatakan bahwa pemahaman dan pengamalan agama mereka-lah yang paling benar setelah Rasulullah?

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Artinya : Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk menusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” [Ali Imran : 110]

“Kamu” di atas adalah merujuk pada para shahabat, karena konteks awal turunnya ayat ini adalah pada masa para shahabat.

3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Artinya : Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu” [Al-Baqarah : 143]

Makna “kamu” pada ayat di atas juga merujuk para shahabat.

4. Karena sesuai dengan hadits Rasulullah yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku (para shahabat – pen), kemudian masa berikutnya (tabiin – pen), kemudian masa berikutnya (tabiuttabiin – pen)” [4]

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Salim hafidhahullah, para shahabat bisa menjadi sebaik-baik manusia bukan karena harta mereka atau fisik mereka, tapi karena agama mereka.

5. Dari Abi Musa Al-Asy’ariy beliau berkata :

“Artinya : Kami sholat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kami berkata : Semalam kita duduk-duduk sampai shalat Isya bersama beliau lalu kami duduk sampai Rasulullah menemui kami dan berkata ; Kalian masih di sini ? kami menjawab : wahai Rasulullah kami telah shalat bersamamu kemudian kami berkata : kami akan tetap duduk sampai shalat Isya bersamamu, beliau menjawab ; bagus atau benar. Abu Musa berkata : kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala ke langit dan hal itu sering beliau lakukan lalu bersabda : bintang-bintang adalah penjaga langit, jika hilang bintang-bintang tersebut maka datanglah bencana padanya dan saya adalah penjaga para sahabatku maka jika saya pergi datang kepada mereka apa yang dijanjikan dan sahabatku adalah penjaga umatku jika telah pergi sahabatku datanglah kepada umat ku apa yang dijanjikan” [5]

Dan masih banyak lagi ayat dan hadits yang memuji para shahabat khususnya dan salafusshalih umumnya hingga kita bisa benar-benar meyakini bahwa merekalah yang pemahaman agamanya paling baik setelah Rasulullah.

Selanjutnya karena salafusshalih-lah yang paling benar dalam pemahaman agama, maka tidak ada jalan lain bagi kita kalau ingin benar dalam memahami agama selain mengikuti pemahaman salafusshalih.

Kewajiban mengikuti pemahaman salafusshalih (para shahabat khususnya) ini bahkan diperkuat dengan beberapa ayat dan hadits sebagai berikut :

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An-Nisaa : 115]

Ustadz Abdul Hakim Hafidhahullah menjelaskan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul Mantiq” telah menafsirkan ayat “jalannya orang-orang mu’min” (bahwa) mereka adalah para sahabat. [6]

2. Diantaranya hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Artinya : Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin dan gigitlah dengan gigi gerahammu”

Dan masih banyak lagi ayat dan hadits yang bisa menguatkan.

metodologi atau cara pemahaman agama para salafusshalih yang wajib kita ikuti dinamakan dengan manhaj salaf. Pemahamannya (atau “isme”nya) disebut Salafiyah. dangkan orang-orang yang berusaha untuk menerapkan manhaj salaf disebut dengan salafiy.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa salafiy bukanlah kelompok, sekte ataupun organisasi apapun yang memiliki AD/ART, ketua, pendiri, tahun berdiri, bahkan metodologi pemahaman agama sendiri. Salafiy hanyalah penisbatan seseorang pada manhaj salaf – yaitu hanya menyatakan bahwa seseorang itu mengikuti manhaj salaf (metodologi beragama para salafusshalih) dalam pemahaman agamanya. Tidak lebih dari itu.

Dan kebetulan metodologi beragama para salafusshalih tidak mengizinkan orang-orang yang mengaku salafiy untuk mengikuti berbagai macam firqah (karena sudah ada hadits yang menyuruh kita untuk meninggalkan semua firqah). Oleh karena itu saya akhirnya memilih untuk meninggalkan jamaah x dan partai y dan kemudian berusaha untuk secara konsekuen menjadi salafiy (artinya menjalankan metodologi pemahaman agama sebagaimana para salafusshalih).

Lalu mungkin gak ada satu kelompok atau firqah saat ini yang mengaku bermanhaj salaf?

Kita lihat saja, ada gak ciri manhaj salaf dalam diri orang-orang dalam kelompok tersebut. Apakah mereka antara lain [7] : (ini baru antara lain, lho)

1. beriman kepada Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, menurut apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa tahrif (menyimpangkan maknanya), mentamtsil (memisalkan dengan makhluk), mentasybih(menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa menta’thil (meniadakan atau menghapus sifat itu dari Allah)

2. berkeyakinan bahwa berdo’a kepada orang mati, meminta tolong kepada mereka dan begitu juga terhadap orang yang masih hidup pada masalah yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah adalah syirik.

3. mencintai para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan membenci orang-orang yang mencela mereka.

4. mencintai Ahlul Hadits dan seluruh para salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan Ahlus Sunnah.

5. tidak menulis dalam kitab-kitab dan pelajaran-pelajaran kita serta kita tidak berkhutbah kecuali dengan Al-Qur’an atau Hadits yang shahih untuk berhujjah.

6. berpendapat wajib saling tolong-menolong sesama muslim mana saja dalam kebenaran. Dan kita berlepas diri dari dakwah-dakwah jahiliyah (firqah, sekte, kelompok, partai)

7. berpendapat tidak boleh memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin selama mereka masih muslim. Kita tidak berpendapat bahwa revolusi adalah cara yang membawa kebaikan, bahkan itu adalah cara yang merusak masyarakat.

8. mengikat pemahaman kita dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berdasarkan pemahaman Salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan ahli hadits.

9. membenci kelompok-kelompok baru: Komunisme, Ba’tsi, Nashiry, Sosialisme, dan Rafidhah yang telah keluar dari Islam.

10. mencintai Ulama Sunnah yang hidup sekarang. Dan kita ingin mengambil faedah dari mereka.

11. bersikap tegas terhadap bid’ah dan maksiat yang banyak tersebar di masyarakat.

Lalu bagaimana dengan pandangan orang bahwa salafiy itu keras, kaku, jumud, tekstualis, gak tau fiqh waqi’, gak solider sama umat Islam lain, suka membid’ah-bid’ahkan, suka mengkafirkan, dan suka gontok-gontokan sama jamaah-jamaah lain plus suka meng-hajr temennya sendiri?

Perlu saya tegaskan bahwa standar kebenaran bukanlah pada “kata orang lain” atau “suara mayoritas”. Kebenaran adalah Al Qur’an dan Assunnah dengan pemahaman shahabat walaupun engkau sendirian. Jadi kalau memang konsekuensi dari pemahaman agama yang benar ini kita dituduh macam-macam, ya itulah resiko berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin. Toh, yang menilai kita sebenarnya adalah Alloh, bukan orang lain dan bukan suara mayoritas.

Walaupun tentunya bukan berarti orang-orang salafiy cuek tidak memperhatikan umat sekelilingnya. Mereka tetap (dan seharusnya tetap) memperhatikan kondisi umat dalam konteks untuk berda’wah.

Khusus untuk kasus sebagian orang yang mengaku salafiy yang kelihatannya suka menghajr teman sendiri sesama salafiy.., dapat saya jelaskan bahwa hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi terang benderangnya manhaj salaf.

Penisbatan salafiy bukan pada orang-orang tersebut. Penisbatan salafiy adalah pada generasi awal yang shalih, pada orang-orang yang telah dijamin pemahaman agamanya. Kalaupun ada orang-orang salafiy yang (mungkin) salah, maka yang salah adalah orang tersebut, dan bukan penisbatannya apalagi manhaj-nya.

Lagi pula penisbatan salafiy adalah penisbatan yang cenderung personal bukan penisbatan kelompok. karena penisbatannya personal pada manhaj salafusshalih, maka tanggung jawab seorang yang mengaku salafiy juga personal, tidak ada tanggung jawab jama’i untuk menanggung kesalahan orang lain yang kebetulan bersalah. Dan kalaupun ada tanggung jawab, maka tanggung jawab tersebut hanyalah berupa nasihat.., sama dengan tanggung jawab seorang salafiy pada umat Islam yang lain.

Terakhir bisa saya utarakan salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Artinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang selalu dalam kebenaran, menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolongnya dan orang yang menyelisihinya. Sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu. [8]

*************

Footnote :

[1] Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399

[2] Firqah adalah kelompok selain dari Jamaatul Muslimin. Dan pengertian Jamaatul Muslimin kembali pada dua makna: Pertama, Umat Islam yang bersepakat mengangkat seseorang amir (pemimpin) menurut tuntunan syara’. Dan kedua, yaitu jama’ah Ahlus Sunnah yang melakukan i’tiba’ dan meninggalkan ibtida’ (bid’ah). Dari majalah As-Sunnah edisi 10/I/1415-1994 hal.29-32, terjemahan dari majalah Al-Bayan No. 78 Shafar 1415H/Juli 1994 oleh Ibrahim Said. Saya kutip dari situs www.almanhaj.or.id

[3] HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi

[4] Hadits Mutawatir sebagaimana dicantumkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al-Isabah” 1/12, dan disepakati oleh Suyuthi, Al-Manawi, Al-Kinani

[5] Hadits Riwayat Muslim 16/82 -An-Nawawiy

[6] Dalam kitab “Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti”

[7] Penjelasan Syaikh Muqbil rahimahullah, Diambil dari Buletin Al-Manhaj, edisi 7/1419 H/1999 M, yang diterbitkan oleh Lajnah Khidmatus Sunnah wa Muharobatul Bid’ah. Ponpes Ihyaus Sunnah. Kecuali pada butir terakhir merupakan tambahan penulis

[8] HR. Al-Bukhari (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174)), dari Shahabat Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu