Risalah singkat ini saya buat karena sepertinya di kalangan masyarakat umum masih terdapat kerancuan tentang terminologi sunnah ini. Orang-orang berkata memelihara lihyah (jenggot dan jambang) itu sunnah, tidak isbal (tidak memanjangkan kain celana/sarung bagi laki-laki) itu sunnah, poligami itu sunnah, dan lain-lain, tapi sunnah yang mana, sunnah dalam pengertian apa? Itulah yang insya Allah akan sedikit dibahas sekarang.

Dari beberapa risalah yang saya baca, terminologi sunnah dibagi menjadi beberapa makna, di antaranya adalah:

1. Assunnah menurut istilah ulama ushul fiqih adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam selain dari Al-Qur’an, baik perbuatan, perkataan, taqrir (penetapan) yang baik untuk menjadi dalil bagi hukum syar’i. Teman sunnah dalam makna ini adalah Al Qur’an dan ijma. (Sering kan, kita mendengar sumber hukum Islam terdiri dari Al Qur’an, Assunnah dan Ijma’?).

2. Assunnah menurut ulama Salaf adalah petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqaad (keyakinan), perkataan maupun perbuatannya. Terminologi Sunnah di sini memiliki lawan bid’ah (yaitu hal yang diada-adakan dalam bidang agama yang menyerupai syariat). (Sering kan, kita mendengar istilah “ahlussunnah” vis a vis “ahlul bid’ah”?)

3. Assunnah menurut istilah ahli fiqih (fuqaha) ialah segala sesuatu yang sudah tetap dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan hukumnya tidak fardhu dan tidak wajib, yakni hukumnya sunnah (atau istilah lainnya mustahab). Teman sunnah dalam makna ini adalah ‘wajib’, ‘mubah’, ‘makruh’, dan ‘haram’. (Sering kan kita mendengar istilah hukum suatu perbuatan itu bisa wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram)

Dari ketiga makna ini saja kita bisa langsung membedah beberapa kesalahpahaman di kalangan masyarakat.

Ketika ada orang yang bilang, “Memelihara lihyah itu Sunnah Nabi. Dan karena Sunnah maka kalau dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan tidak apa-apa.” Kita dapat katakan bahwa premis orang ini benar namun kesimpulannya salah. Memelihara lihyah memang Sunnah Nabi, karena Nabi memang melakukannya dan memerintahkan sahabatnya untuk melakukannya (Sunnah menurut pengertian pertama atau kedua), namun apakah lantas hukum memelihara lihyah itu sunnah (sunnah pengertian ketiga)? Ternyata tidak sesimpel itu.

Memelihara lihyah adalah Sunnah Nabi (sunnah dalam pengertian pertama dan kedua) yang memiliki hukum ‘wajib’. Karena Nabi memang memerintahkannya [1] dan konsensus para sahabat yang semua mengamalkannya secara konsisten (ijma’). (Jangan dibingungkan dengan atsar Ibnu Mas’ud yang menyatakan bahwa beliau memotong lihyah ketika lihyahnya mencapai panjang lebih dari segenggaman, karena beliau hanya merapikannya agar panjang lihyahnya tidak lebih dari segenggaman dan tidak memotong habis)

Berbeda, misalnya, dengan hukum aqiqah. Aqiqah adalah sunnah Nabi (sunnah dalam arti pertama dan kedua) dan hukumnya sunnah (sunnah dalam pengertian ketiga) karena walaupun Rasulullah menekankan perintahnya akan aqiqah dan pernah melakukan aqiqah terhadap cucu Beliau, namun Nabi sendiri pernah tidak melakukan aqiqah terhadap putranya, Ibrahim. Selain itu beliau juga membiarkan beberapa sahabatnya yang tidak mengaqiqahkan anaknya.

Seperti halnya lihyah, salah faham juga terjadi pada masalah isbal. Orang-orang awam berkata bahwa tidak-isbal (meninggikan celana/sarung) adalah sunnah Nabi. Dan karena sunnah maka tidak mengapa memakai celana/sarung isbal.

Sebenarnya, tidak-isbal memang sunnah Nabi (sunnah pengertian pertama atau kedua) namun hukumnya wajib. Karena Rasulullah telah memerintahkannya (dalam banyak hadits yang oleh Syaikh Bakr Abu Zaid bahkan disimpulkan mutawatir dan dihitung mencapai 21orang sahabat yang meriwayatkannya). Dan para sahabat semua mengamalkannya tanpa kecuali (ijma’) Dan semua sahabat ketika telah mengetahui hukum isbal, merekapun memerintahkan orang-orang untuk tidak-isbal tanpa peduli apakah isbal itu dilakukan karena sombong atau tidak [2].

Kesalahfahaman juga terkadang terjadi ketika orang awam berbicara tentang menikah dan poligami. Orang bilang menikah dan poligami adalah Sunnah Rasul, namun pertanyaannya kemudian adalah apakah lantas hukumnya menjadi sunnah alias mustahab? Ini perlu penelitian lebih lanjut. Karena bisa saja sesuatu yang menjadi Sunnah Rasul kemudian ketika akan diterapkan pada salah satu orang hukumnya bisa berubah menjadi makruh atau bahkan haram, seperti misalnya orang yang berpoligami dengan maksud melukai hati istri-istrinya. Jadi jangan asal semangat mengatakan sunnah Rasul-sunnah Rasul ketika mengamalkan sesuatu tanpa memahami ilmu yang berhubungan dengan amal tersebut [3].

Selain itu hendaknya kita juga menghilangkan standar ganda kita akan penerapan sunnah Rasul (sunnah dalam pengertian kedua)…. Kalau dalam buku-buku, tulisan, syair dan seminar kita bisa dengan lantang membela sunnah menikah (dan poligami), lantas mengapa kita seolah berat untuk membela sunnah ‘tidak-memotong-lihyah’ dan ‘tidak-isbal’? Minimal dengan menerapkannya pada diri kita sendiri.

******* 

Footnote:

[1] Dalilnya sangat banyak, antara lain
1. Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : Potonglah kumis dan biarkan jenggot, selisilah orang-orang majusi” (Hadits Riwayat Ahmad II/365, 366 dan Muslim 260)
2. Hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda : Artinya : Selisihilah orang-orang musyrik (dengan cara) melebatkan jenggot dan memendekkan kumis” (Hadits Riwayat Bukhari 5553 dan Muslim 259)
3. Imam Ahmad (Lihat Al-Musnad II/366) meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda : Artinya : Panjangkanlah jenggot dan potonglah kumis. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani”
4. Al-Bazzar meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu secara marfu’ (yaitu hadits yang riwayatnya diangkat sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam) : Artinya : “Janganlah kalian menyerupai orang-orang asing. panjangkanlah jenggot”.
5. Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu‘anhu, dia berkata : Artinya : “Adalah beliau Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam memotong atau mencukur sebagian kumisnya dan demikian pula yang dilakukan Nabi Ibrahim khaliilurrahmaan shalawaatullah’alaihi” (Hadits Riwayat Tirmidzi)

[2] Ibnu Umar ra. pernah lewat di depan Rasulullah dalam keadaan sarung terjurai. Kemudian Rasulullah menegurnya dengan keras tanpa menanyakan apakah Ibnu Umar menjuraikan sarungnya karena sombong atau tidak (HR Muslim). Begitu pula sikap Umar bin Khottob ra. ketika melihat seorang pemuda yang isbal lewat di depannya (HR Ibnu Abi Syaibah)
Bahkan tanpa kecuali kewajiban tidak isbal ini juga berlaku untuk orang yang kakinya cacat. Ketika Nabi melihat seseorang dari jauh sedangkan orang tersebut menyeret sarungnya maka beliau bersegera kesana dan berkata: “angkat kainmu dan bertakwalah kepada Allah!!” Orang tersebut menjawab: “kakiku bengkak dan sering tergesel kedua dengkulku.” Nabi menjawab : “Angkatlah sarungmu, sesungguhnya semua ciptaan Allah adalah baik.” (HR Ahmad)
Lihatlah sikap Nabi yang langsung menyalahkan orang tersebut karena isbal, tanpa menanyakan apakah orang itu melakukannya dengan sombong atau tidak.

[3] Poligami termasuk sunnah Nabi (pengertian pertama dan kedua) yang hukumnya jaiz (boleh dilakukan). Berdasarkan penjelasan Ustadz Zainal bahwa makna fi’l amr (perintah) “kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.” Dalam Al Qur’an surat Annisa ayat 3 adalah pembolehan (bukan pewajiban) karena konteksnya diawali oleh pelarangan (dalam ayat 2 disebutkan mengenai larangan berbuat tidak adil kepada anak yatim). Seperti halnya kalimat perintah “campurilah mereka”(kawinilah mereka) dalam Al Baqoroh 187 bermakna : boleh mencampuri Istri pada malam hari bulan Ramadhan dan bukan bermakna harus atau mustahab mencampuri Istri pada malam bulan ramadhan karena konteks sebelumnya adalah bahwa mencampuri Istri pada siang hari bulan ramadhan dilarang.

*******

Sumber bacaan : PENGERTIAN AS-SUNNAH MENURUT SYARI’AT Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas