Itu nama anak pertamaku. Tadinya aku mau menamakan anakku “Zaid” saja. Karena ada pendapat beberapa ulama yang bahwa nama yang terdiri dari lebih satu kata “kurang disukai” (atau makruh). Tapi karena saran beberapa orang yang mengatakan bahwa nama satu kata akan sulit dalam mengurus paspor dll dan karena aku belum mendapatkan dalil yang pasti yang memakruhkan nama satu kata, akhirnya aku – atas usul istriku – setuju untuk menambahkan nama Syarif di belakang nama Zaid.

Perasaan punya anak, apalagi anak pertama, memang beda. Aku memang mencintai orang tuaku, mencintai adik-adikku, mencintai istriku. Tapi pada anakku… Sepertinya lebih dalam dari semua perasaan yang mampir dalam hatiku.

Kalau perasaanku pada orang tuaku mungkin lebih pada perasaan bergantung, merasa aman kalau ada mereka dan kalau perasaanku pada istriku mungkin lebih pada perasaan seorang laki-laki yang nyaman berada di sampingnya dan ingin selalu bersama dia, tapi kalau sama anakku… Aku merasakan lebih dari semua itu.

Orang tuaku mungkin bisa aku anggap sebagai orang lain (di luar diriku) yang aku cintai dari awal kelahiranku karena menjadi tempat bergantung, tempat belajar, yang membesarkan aku dan mengamankan proses pertumbuhanku. Istriku bisa aku anggap sebagai orang lain yang atas takdir Alloh diutus untuk menemaniku menjalani sisa hidupku, bekerja sama dan saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Maka anakku… anakku tidak bisa aku anggap sebagai orang lain… Dia adalah diriku sendiri.