You are currently browsing the category archive for the 'Astronomi' category.
Di Arab lahirlah Islam dengan metodologi (manhaj) pemahaman kebenaran yang berdasarkan pada Al Qur’an dan Assunnah dengan kaidah-kaidah tertentu yang baku. Sementara itu di Yunani berkembanglah filsafat dengan metodologi pemahaman kebenaran yang semata-mata berdasar pada akal.
Di masa Rasulullah, antara Islam dan filsafat belum bertemu muka. Masing-masing masih hidup di habitat awalnya masing-masing. Masalah baru muncul ketika daerah kekuasaan Islam semakin meluas dan menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya sudah diinfiltrasi oleh filsafat.
Para ulama terdahulu (ulama salaf) melihat bahwa filsafat memiliki manhaj yang berbeda dengan manhaj baku dalam Islam. Selain itu, filsafat banyak juga mengeksplorasi tentang kebenaran sebagaimana Islam telah menjelaskannya. Filsafat pada awal perkembangannya banyak membahas segala sesuatu yang – tanpa bisa terhidari – terkait dengan konsep ketuhanan baik rububiyah maupun uluhiyah yang selama ini telah baku dalam Islam. Maka para ulama salaf pun bangkit untuk membantah filsafat.
Kita kan hidup di bumi dan katanya musti memakmurkan bumi. Trus ngapain juga ngliatin langit (tiap malam). Bintang kan hidupnya jauh di atas sono, sementara kita di bumi. Nggak ada hubungannya kale?
Kalau ngliat sejarah, sebenarnya astronomi itu (pernah) sangat berguna. Ketika teknologi belum berkembang, maka peradaban manusia pun terkait erat dengan langit. Petani dan nelayan menentukan kapan mulai musim tanam dan mulai melaut dengan melihat kemunculan rasi bintang tertentu (bukan dengan melihat kalender). Petani berangkat ke sawah ketika fajar menyingsing dan pulang ketika matahari bersinar terik (mereka tidak bawa jam tangan ke sawah). Nelayan menentukan arah dengan rasi bintang tertentu (bukan dengan kompas apalagi GPS). Anak-anak bergembira ria ketika bulan purnama (bukan malam minggu seperti sekarang). Orang-orang menghibur diri dengan melihat langit dan mengimajinasikan gambar-gambar di langit (bukan seperti orang sekarang yang imajinasinya didikte oleh televisi). Jengis Khan ketika akan menyelundupkan mata-matanya ke pihak musuh akan menghindari saat-saat bulan bersinar (dia nggak pernah dipusingkan oleh radar).
Rukyatul hilal Zulhijjah 1428 H. Arab Saudi dianggap salah?? Bukan berita baru bagi penggiat rukyatul hilal.
Namun berbeda dengan kontroversi sebelumnya yang biasanya berkutat masalah definisi hilal dan metode ummul qura yang berbeda dengan negara-negara lain, kali ini (menurut saya) kontroversinya lebih parah lagi.
Kejadiannya kurang lebih seperti ini…:
Tanggal 9 Desember 2007 di Makkah Al Mukarramah, pada saat matahari terbenam (kurang lebih pukul 17.35), selisih azimuth bulan dan matahari sebesar 3,552 derajat, selisih tinggi matahari dan bulan sebesar minus 4,483 derajat (posisi bulan sudah terbenam), sehingga elongasi 5,717 derajat (semua hitungan ini saya comot dari artikel Analisis singkat penentuan 1 Zulhijjah 1428 H Versi Kerajaan Saudi Arabia tulisan Ma’rufin Sudibyo)
Pas lagi bawa binokuler ke kantor dan kebetulan sampai malem masih di kantor, beberapa teman ngajak ngliat bintang dari beranda lantai 5. Aku pun memasang binokuler lengkap dengan tripodnya. Kami pun mulai bergantian mengintip langit.
Aku tunggu komentar mereka. Ternyata gak ada komentar. Yang kulihat di kegelapan beranda malah ada sedikit raut kecewa di muka mereka. Sedikit banyak aku bisa menebak apa yang mereka pikirkan.
Mungkin mereka nggak enak mau bilang kecewa langsung ke aku. Oleh karenanya aku berinisatip nanya ke mereka, “Kenapa? Lu berharap binokuler gw yang pembesaran 10x ini bisa nggedein bintang di sono itu 10 kali lipat gedenya?”
“Emang kenapa Fai?”
Read the rest of this entry »
[yang dimaksud dengan materialisme adalah pandangan yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apa pun selain materi]
Materialisme mengatakan bahwa alam semesta bukan sesuatu yang diciptakan. Alam semesta ada begitu saja tanpa awal karena memang ada dan akan tetap ada sampai kapanpun. Pandangan alam semesta statis seperti inilah yang mendominasi sampai abad 19 di kalangan ilmuwan dan filosof. Tidak ada ilmuwan (bahkan yang agamis sekalipun) dengan alat-alat dan penalaran saat itu, yang sanggup mencari bukti-bukti ilmiah untuk menentang pendapat para materialis tadi.
Di lain pihak pihak agamawan pun tetap mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan. Dan dalil mereka hanyalah kitab suci dan common sense (fitrah) semata.
(kasihan sekali ilmuwan yang agamis, ya? Sisi agamis mereka mengatakan bahwa alam semesta ini tercipta, tapi di lain sisi mereka tidak menemukan bukti ilmiah untuk mendukung keyakinan mereka tersebut)
Namun keadaan mulai berbalik ketika di awal abad 20 ditemukan fenomena redshift (pergeseran ke arah spektrum dengan panjang gelombang yang lebih panjang) dari galaksi-galaksi. Redshift menunjukkan bahwa jarak galaksi-galaksi tersebut ke galaksi kita menjauh. Selain itu ditemukan juga bahwa antar galaksi ke galaksi lainnya (selain galaksi kita) juga saling menjauh.
