You are currently browsing the category archive for the 'Personal' category.

Anak keduaku sudah lahir pada hari Rabu malam Kamis tanggal 27 Februari 2008. Perempuan, kuberi nama Ainan Salsabila (dipanggil Inan), sesuai dengan usulan istriku, mengambil dari Al Insan: 18.

Kalo Zaid dulu dibilang pinter karena mulasnya mulai terasa pada hari sabtu ketika ayahnya ada dirumah sehingga bisa segera mengantar bundanya ke RS, maka Inan sekarang lebih pintar lagi, mulas-mulasnya terasa pada hari Rabu siang, sehingga ayahnya bisa izin pulang lebih cepat dari kantor dan mendapat cuti ekstra pada hari kamis dan jumat :)

Kalo Zaid dulu menjadi generasi pertama bayi yang lahir di RSIA Graha Permata Ibu dan fotonya sempat dipajang berbulan-bulan di brosur (iklan) resmi RS tsb, maka Inan menjadi bayi ke-3 yang lahir dengan water birth di RS Bunda Margonda dan bayi pertama yang lahir di bathtub baru khusus water birth di RS tsb.

Kalo pas kelahiran Zaid dulu aku belum berani menemani proses persalinannya, maka pada kelahiran Inan ini aku sudah berani menemani bunda di ruang persalinan. Karena memakai water birth, maka bidannya pun harus khusus didatangkan dari RS Bunda Jakarta. Aku sempat deg-degan mengetahui hal itu. Pada saat itu afterhour hari rabu, bisa dibayangkan betapa padatnya traffic pulang kerja dari Jakarta ke Depok. Aku sedikit lega ketika mengetahui bahwa si bidan memakai KRL untuk menembus traffic jam.

Read the rest of this entry »

Setiap hari kerja, aku selalu melintasi jalur dari Kukusan, Depok ke Stasiun Pondok Cina. Jalur yang biasa bagi kebanyakan orang, tapi istimewa bagi saya. Saya selalu menikmati saat-saat mulai dari menikung dari jalur paving dari Kukusan Kelurahan masuk ke Jalan Lingkar Utama UI. Bagaimana saya melintasi jalan yang menurun dan akhirnya menanjak di jalur menuju menara air atau di jalan utama menuju ke FMIPA. Tak henti-hentinya saya bertanya-tanya dalam diri mengenai bentuk muka tanah yang (menurut saya) luar biasa itu.

Di sisi kanan terdapat Poltek yang bangunan-bangunan utamanya dibangun di tanah yang agak tinggi dengan diapit tanah yang lebih rendah berupa situ (danau) di sebelah timur dan sungai kecil di sebelah barat. Situ Poltek dan sungai kecil itu bergabung dan mengalir ke seberang jalan utama UI menjadi situ di belakang Pusgiwa yang berangkai dengan situ-situ lainnya sampai Danau Salam di dekat Asrama UI. Luar Biasa !!

Read the rest of this entry »

Anda mengharapkan pembahasan serius mengenai perbedaan manhaj da’wah, uslub da’wah, tokoh jamaah dan seterusnya?? Anda salah tempat…

Yang ada di sini hanyalah pembahasan tak terduga mengenai … ayat-ayat andalan. (hehehehe…)

Tarbiyah ayat andalannya (sepanjang pengetahuan gw) : 

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَاداً لِّي مِن دُونِ اللّهِ وَلَـكِن كُونُواْ رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

Ali Imran 79
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Read the rest of this entry »

[disclaimer: Semua yang saya tulis ini adalah pendapat pribadi saya, tidak merupakan pendapat dari jamaah maupun kelompok manapun]

Ketika diadakan pemilu, entah itu untuk memilih anggota parlemen maupun memilih pemimpin wilayah, perlukah kita untuk memberikan suara?

Perlu difahami terlebih dahulu bahwa Demokrasi dengan segala turunannya (seperti parlemen dan partai politik) bukan berasal dari Islam dan di dalamnya terdapat kebatilan bahkan kekufuran yang tidak sedikit. Pembahasan mengenai demokrasi dapat dicari disini atau disini.

Read the rest of this entry »

Itu nama anak pertamaku. Tadinya aku mau menamakan anakku “Zaid” saja. Karena ada pendapat beberapa ulama yang bahwa nama yang terdiri dari lebih satu kata “kurang disukai” (atau makruh). Tapi karena saran beberapa orang yang mengatakan bahwa nama satu kata akan sulit dalam mengurus paspor dll dan karena aku belum mendapatkan dalil yang pasti yang memakruhkan nama satu kata, akhirnya aku – atas usul istriku - setuju untuk menambahkan nama Syarif di belakang nama Zaid.

Read the rest of this entry »