You are currently browsing the category archive for the 'Manhaj' category.

Kadang-kadang saya menjumpai beberapa teman saya berprinsip “ngaji jangan di satu tempat aja”, “ngaji ke mana aja asal Islam” atau “ngajilah ke beberapa ustadz (even yang berbeda harokah) sehingga wawasan lebih terbuka, tidak picik, dst, dst”. Tidak jarang mereka membumbuinya itu dengan perkataan “hikmah itu adalah barang temuan orang mukmin, di mana saja dia menemukannya, maka dia yang paling berhak atasnya”.

Padahal seharusnya mereka memahami juga arti perkataan (yang sering teman-teman saya tersebut ungkapkan juga) “Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.”

Jadi yang paling penting sebenarnya bukanlah sekedar mendiversifikasikan pengajian kita, namun terlebih penting lagi adalah kita bisa mengenal kebenaran terlebih dahulu.

Read the rest of this entry »

Dalam kitab Muzilul Ilbas dikemukakan penjelasan Syaikh Muhammad ‘Id Al Abbasi tentang Ahlussunnah dan Salafiy.

Segala puji bagi Alloh. Shalawat dan salam untuk Rasul yang tidak ada Nabi sesudahnya. Begitu juga terhadap keluarganya, sahabatnya, dan tentaranya.

Salafiyah adalah penisbatan kepada Shalafus Shalih. Mereka adalah orang-orang yang berada pada tiga abad pertama yang utama dan dikenal kebaikannya. Tidak ada keraguan bahwa mereka adalah kelompok yang mendapat pertolongan dan kemenangan, seperti dikabarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam. Ahlussunnah wal Jamaah pada hakikatnya adalah kaum Salaf.

Istilah Ahlussunnah wal Jamaah muncul pada saat pelaku bid’ah dan beragam firqah dari kalangan Mu’tazilah, Rafidhah, Khawarij, dan firqah-firqah lainnya yang tersebar. Para ulama kemudian memandang cukup menggunakan istilah Ahlussunnah wal Jamaah.

Read the rest of this entry »

(Pernah baca artikel “Mengapa Harus Salafiy” dari Syaikh Nashir rahimahullah atau buku “Mengapa Manhaj Salaf” dari Syaikh Salim hafidhahullah? Nah, artikel saya ini adalah versi orang awam sekaligus versi lokal dari artikel “serius, penuh ilmu, dan internationally accepted”-nya Syaikh-syaikh tersebut)

Mungkin ada sebagian pihak yang bertanya-tanya: mengapa fai – yang aktivis jamaah x sekaligus kader sebuah partai y – tiba-tiba kok, memutuskan untuk menjadi salafiy? Padahal jamaah x adalah jamaah yang begitu widely accepted di masyarakat dan partai y juga sedang ngetren-ngetrennya. Sementara salafiy…. , jamaah apaan tuh? gak terkenal. Dan kalaupun terkenal, paling terkenal karena ulah orang-orangnya yang keras, kaku, jumud, tekstualis, gak tau fiqh waqi’, gak solider sama umat Islam lain, suka membid’ah-bid’ahkan, suka mengkafirkan, dan suka gontok-gontokan sama jamaah-jamaah lain plus suka meng-hajr temennya sendiri. Terus ngapain juga si fai jadi salafiy?

Read the rest of this entry »