Pertanyaan itu sempat mencuat dalam sebuah kesempatan diskusi pada Maddah Sirah Nabawiyah di sebuah Ma’had.

Sebelum diskusi itu, kami sudah menyepakati terlebih dahulu mengenai pengertian tradisi itu sendiri, yaitu sesuatu yang diikuti tanpa ilmu. Pokoknya, yang asal ikut saja.

Diskusi berlangsung hangat dan tak menghasilkan keputusan tegas tentang ada atau tidaknya yang disebut tradisi Islam itu. Namun kemudian muncul pendapat menarik mengenai isu ini. Yaitu tentang bagaimana sebenarnya pemunculan terminologi tradisi Islam itu.

Terminologi ini muncul pertama pada tahun 1920-an, yaitu masa-masa terakhir khilafah Utsmaniyah. Pada saat itu, musuh-musuh Islam dengan gencar menggembar-gemborkan istilah ini. Yaitu bahwa di dalam Islam terdapat tradisi Islam juga.

Mereka menyebutkan misalnya kebiasaan memakai imamah (peci Arab), memakai peci bagi orang Melayu, memakai sarung, memakai gamis, memakai baju koko bagi orang melayu, memakai sorban, memakai jilbab, merayakan Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Isra Mi’raj, berqasidah (nasyid), sholawat-an, diba’an, tahlilan, shalat, syuro model Islam, pemerintahan Islam (yang mereka gambarkan sebagai pemerintahan diktator), hukum waris, hukum nikah, dll, kesemuanya itu dianggap sebagai tradisi Islam, yaitu kebiasaan-kebiasaan beragama yang ada dalam masyarakat Islam yang ditransfer dari generasi ke generasi sebagai kebiasaan, diikuti oleh generasi selanjutnya begitu saja sebagai warisan dari generasi sebelumnya, dan diikuti tanpa ilmu.

Lama kelamaan, seiring dengan runtuhnya Kekhalifahan terakhir, imunitas umat Islam terhadap ide-ide musuh Islam juga ikut runtuh. Dan di sisi lain, ide itu juga dikemukakan oleh musuh Islam dengan intensif menggunakan semua wasilah yang ada, politik kekuasaan, pendidikan, pengajaran dan media massa. Hingga akhirnya setelah umat ini berganti generasi, kira-kira pada era 80-an, ide tradisi Islam itu sudah menjadi aksioma dalam benak masyarakat Islam.

Maka ketika ditanya, ‘agama Islam itu apa?’, generasi baru ini akan menjawab bahwa agama Islam adalah: ‘memakai imamah, memakai peci, memakai sarung, memakai gamis, memakai baju koko, memakai sorban, memakai jilbab, merayakan Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Isra Mi’raj, berqasidah (nasyid), sholawatan, diba’an, tahlilan, shalat, puasa, haji dst.

Maka dengan kelicikannya, pada saat itulah, musuh Islam mengemukakan definisinya mengenai tradisi, yaitu sesuatu yang diikuti begitu saja tanpa ilmu. Lalu mereka – dengan kelicikannya juga – membawakan kalimatul haq “setiap amal harus dengan ilmunya.”

Kenapa licik? Karena yang kemudian mereka anggap sebagai “ilmu” yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah paradigma keilmuan (atau bisa juga dibilang manhaj) mereka yang liberal. Dengan memakai “ilmu” mereka itulah akhirnya umat Islam dipaksa untuk memaknai tradisi Islam.

Konsekuensi dari definisi tradisi dan dasar keilmuan yang mereka bangun itu, mereka menyatakan bahwa tradisi Islam sebagai buruk, karena tidak dilakukan dengan dasar ilmu yang “benar”, karena itu: Tinggalkan tradisi Islam ! Gantilah tradisi itu dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang – menurut mereka – lebih memiliki dasar “ilmu”.

Mereka kritik habis-habisan tradisi-tradisi Islam yang kelihatan tidak menguntungkan bagi ide-ide liberalisme, humanisme, kesetaraan gender dll. Memang beberapa yang mereka sebut tradisi, tetapi mereka biarkan berjalan seperti memakai sarung, shalat, haji dll. Mereka “memerlukan” tradisi itu tetap berkembang sebagai bukti pengakuan mereka terhadap adanya ritual-ritual suci. Namun mereka membabat habis sistem hukum Islam, pemerintahan Islam dll antara lain dengan meniupkan isu Islam Arab vs Islam Lokal dll. Semuanya mereka anggap sistem bodoh yang tak berilmu.

Sebagai konsekuensi dari penanaman paradigma ini, muncullah dalam masyarakat Islam sekelompok orang didikan barat yang mengaku Islam (karena dilahirkan sebaga anak orang Islam dan memiliki nama yang berbau Arab), namun mereka berpikir seperti para orientalis berpikir. Mereka mengembangkan budaya kritis terhadap yang mereka sebut tradisi Islam. Budaya kritis yang menurut mereka sangat mengagumkan, ilmiah, cerdas, mencerahkan, anti kejumudan, toleran, inklusif, rahmatan lil alamin dll.

Mereka menolak keterlibatan Islam dalam politik, menghalangi orang-orang dari jihad di jalan-Nya, menolak pemberlakuan syariat Islam dll.

Mereka mengemukakan ide-ide mereka mengenai toleransi, inklusivisme, pluralisme dll, yang akhirnya berujung pada wihdatul adyan (menyamakan semua agama). Mereka anggap semua agama itu sama, semua menuju Tuhan.

Mengapa bisa seperti itu? Karena mereka memang hanya bisa melihat pada penampilan semua agama yang secara sunnatullah seolah-olah memang sama dan melupakan sumber kebenaran dari Alloh dan Rasul-Nya. Mereka juga gemar memakai ayat mutasyabihat dan melupakan ayat muhkamat, melupakan hadits-hadits yang shahih.

Mereka menentang fenomena perang membela agama, dengan dalih Islam sebagai agama perdamaian. Dan melupakan lebih dari separuh ayat Al Qur’an yang berbicara mengenai perang dan pernik-perniknya. Mengapa seperti itu? Karena mereka memang mengutamakan perdamaian lebih daripada aqidah.

Selain itu mereka juga menimbulkan syak terhadap wajibnya penggunaan hijab. Mereka menganggap jilban dan khimar hanyalah tradisi Islam atau bahkan tradisi Arab yang nggak ilmiah dan nggak cerdas. Jilbab mereka anggap sebagai symbol dominasi maskulin atas kaum wanita, mengekang kebebasan kaum wanita dll.

Mereka memanfaatkan perbedaan pendapat di kalangan ulama yang hanif tentang aurat untuk melegitimasi usaha mereka mengurangi sedikit demi sedikit wilayah aurat wanita, dengan dalih mengikuti jaman. Padahal mereka tak lebih dari mengikuti bapak-bapak mereka di barat yang bodoh itu.

Semoga Alloh menetapkan yang haq dan membatalkan yang batil.