Pola bertemanku (das sein) adalah cenderung sedikit teman tapi cenderung lebih dekat. Yang bisa aku ceritakan di sini terbatas mulai aku kelas 3, mulai aku tamyiz.
1. Sujadi
dipanggil Jadi Kami bertetangga dan sepantaran. Kami sekolah di SD yang berbeda dan mulai dekat ketika kami kelas 4 SD.Kami bersama teman-teman lingkungan membuat geng anak-anak penggila Disney. Selain Aku dan Jadi, anggotanya ada pula Purwanto, Rohadi, Ito dan Siho. Aku mengaku sebagai Mickey, Jadi sebagai Donal, Purwanto menjadi Goofy dst. Kegiatan utamanya adalah membuat komik Mickey, Donald, Goofy bertualang di luar angkasa. Kelas 5 aku sudah curhat mengenai cewek ke Jadi dan Jadi pun demikian.Kelas 6 aku sibuk persiapan ebtanas dan lomba bidang studi sehingga kami tidak terlalu dekat.Naik SMP aku, Jadi dan beberapa teman yang lain jadi gemar sepeda-sepedahan. Alasanku sih, nemenin teman-temanku ngecengin cewek incaran mereka J.Selain itu aku dan Jadi membuat perpustakaan komersial. Aku menyumbangkan buku-buku detektif dan petualangan (i.e trio detektif, lima sekawan, stop dll) sedangkan Jadi menyumbangkan buku-buku silat semacam wiro sableng. Lumayan, uang pertama yang aku peroleh dari hasil kerjaku sendiri. (walaupun modal beli bukunya juga dari orang tua)Setelah SMP aku ke SMU 1 Purwokerto sedangkan Jadi ke STM Negeri Purwokerto. Letaknya berdekatan dan kami sepakat untuk kos sekamar.Segalanya kami lakukan bersama waktu itu: nyuci bersama, nyetrika bersama, makan bersama, belanja bersama, sholat malam.
Tetangga kamar kami adalah 4 cewek dari Kroya dan dengan gaya humornya, Jadi berhasil memancing konflik-konflik yang jenaka dengan kamar sebelah.Tapi kebersamaan kami hanya satu semester. Karena Jadi akhirnya memutuskan untuk nglaju Purwokerto Banyumas, sehingga aku terpaksa nyari temen kos lain.Sejak itu hubungan kami kurang dekat, sampai sekarang.
Terakhir yang aku tahu, dia sudah jadi guru, punya anak istri dan jadi karkun (aktivis jamaah tabligh).(Btw aku pernah nanya dalil khuruj, tapi menurutku dia belum memberikan jawaban yang memuaskan)
2. Priambodo
Dia teman SD. Dekat mulai kelas 4 sampai lulus SD. SMP aku sudah nggak dekat lagi sama dia.Kalau mengingat teman yang satu ini saya jadi bingung. Sebenarnya dia itu teman dekat atau musuh dekat. Di satu sisi dia terlihat baik sekali. Ketika aku berkonflik dengan salah satu preman kelas, dia membelaku. Selain itu dia rajin nraktir es campur. Tapi selain itu, dia itu suka nyontek ke aku. Selain itu dia juga pernah meminjam buku trio detektifku sampai lama sekali. Ketika aku labrak ke rumahnya ternyata nama pemilik di buku itu telah ditip ex sama dia. Selain itu juga, kami bersaing untuk diakui sebagai Mickey di kelas. Selain itu kami menyukai cewek yang sama. Aaah… 3. Irwan Perdana Wibisana (Irwan) Teman dari SD sampai SMP. Mulai dekatnya dari masuk SMP.Aku mengenal dia sebagai seorang yang full romantis. Orangnya benar-benar pencinta sejati. Awalnya pas SD kami menyukai cewek yang sama. Tapi kemudian dia mengalah. (padahal aku juga akhirnya nggak ndeketin cew itu – aku terlalu malu untuk jatuh cinta). Pernah suatu saat di awal SMP, aku, Jadi dan Irwan ngobrol-ngobrol tentang cewek. Ternyata Jadi dan Irwan pernah menyukai cewek yang sama. Jadi mengenal cew itu di SD-nya sedangkan Irwan mengenal cew itu sebagai tetangga rumahnya. Tapi kemudian cew itu pindah kota ke Purwokerto, meninggalkan Jadi dan Irwan (untuk ukuran anak SD waktu itu Purwokerto udah jauh banget dari Banyumas). Akhirnya mereka membuat kesepakatan untuk berjuang bersama-sama untuk menemukan cewek itu di tempat tinggalnya yang baru. Mereka berangkat bersama-sama ke Purwokerto dengan berbekal sepotong informasi bahwa cew itu sekolah di SMP 8. Akhirnya mereka berhasil menemukan rumah si cewek, tapi gagal bertemu dia. Akhirnya kasus itu pun dipetieskan.Kasus itupun terlupakan dan Irwan pun mulai suka cewek lain. Sepanjang SMP aku melihat benar-benar perjuangannya dalam menggapai cintanya. Sampai-sampai gengnya Irwan (termasuk Aku, Jadi dan bbrp teman lain) berkonflik dengan geng si cewek.Tapi hasil akhirnya…gagal lagi.Aku dan Irwan ternyata sama-sama suka Candy Candy. Dan kami pinjem dari cewek yang sama dan suka karakter yang sama, Terry, second lovenya Candy Candy.Lulus SMP Irwan pergi ikut ayahnya dinas di kota lain. Dan aku pun kehilangan seseorang yang perjalanan hidupnya gak jauh dari cewek dan cinta. 4. Hasan Saputro Dia teman sekamar kos ku setelah Jadi memutuskan tidak kos. Oleh keluarganya dia dipanggil Encap tapi oleh teman-teman di kelas dipanggil Jiban. Gara-garanya dia suka banget menirukan gaya Jiban di sekolah.Ciri yang menonjol dari dia (waktu itu) adalah kepolosannya dan ke-childish-annya. Dia itu nggak tau apa itu ML dan bagaimana caranya (maaf). Aku bersama teman-teman kos yang lain juga sudah sepakat bahwa kami belum pernah menyaksikan dia mandi sebelum sholat shubuh (belum pernah mandi junub). Ajaib sekali bahwa aku sekamar dengan anak yang masih virgin pikirannya seperti dia. Selain satu kamar kos, aku juga satu guru ngaji dengan dia. (kami privat ngaji safinatunnajah dan sullamuttaufiq pada seorang gus tetangga kos) Dan aku menyaksikan betapa susahnya guru ngaji kami menjelaskan mengenai orang-orang yang wajib mandi junub.Kebayang gak sih? Si guru menjelaskan yang wajib mandi junub itu kalo orang melakukan hubungan suami istri. Lha, dia gak tau hubungan suami istri itu maksudnya apa. Terus guru menjelaskan bahwa lelaki yang “mimpi” wajib mandi junub. Padahal dia sendiri belum tau maksudnya kata “mimpi” itu apa.Padahal di kelas (kami satu kelas juga) ada seorang guru biologi yang porno abis. Setiap kali dia menceritakan sebuah lelucon jorok, pasti aku dan bbrp teman sekelas ketawa dua kali. Ketawa pertama untuk ngetawain leluconnya. ketawa kedua buat nertawain Jiban yang nggak ketawa dan bingung mengapa teman-temannya ketawa.Sebenarnya tidak habis-habisnya kami teman sekosnya menjelaskan mengenai seks pada dia. Tapi apa daya, pemikirannya memang belum nyampe.Tapi btw, dia tetap teman yang baik hati. Semua orang yang mengenalnya pasti tau betapa dalam kepolosannya itu justru kebaikan hatinya memancar.Kabar selanjutnya dia diterima di UGM dan mulai menjalani masa pubernya dengan sukses.Kabar terakhir dia sudah lulus dari UGM dan mbantuin kakaknya wiraswasta. 5. Ferry Fajar Hastanto (Feri) Teman seperjuangan di SMU. Aku mengenalnya pertama di forum rohis. Ternyata dia juga rajin ikut pengajian IPNU (Ikatan Putra NU) bareng aku. Akhirnya kami pun dekat sebagai teman seperjuangan dalam membesarkan IPNU di sekolah kami. Kelas satu kami masih IPNU junior. Kami dibawah pembinaan aktivis-aktivis IPNU senior dan aktivis PMII Unsud. Kami rajin ikut kajian, menyebarkan buletin assyifa, langganan dan membaca majalah Aula (semacam Sabili-nya NU). Sampai ketika ada gusdur datang, dengan semangat tinggi kami ikut menghadiri tabligh akbarnya. Kami juga pernah ikut pertemuan internal rohis yang membahas mengenai statemen salah satu pembesar rohis yang (menurut kami) suka mengungkit-ungkit masalah khilafiyah (seperti tahlilan dan qunut). Akhirnya dengan militansi tinggi waktu itu kami rame-rame keluar dari rohis yang menurut kami didominasi muhammadiyah (waktu itu kami gak kenal istilah salafi atau tarbiyah, adanya NU sama muhammadiyah).Kami membantu terlaksananya Lakmud (latihan kader muda) untuk IPNU sekabupaten, dll.Di kelas dua Feri menjadi ketua IPNU dan aku bendaharanya. Selain itu kami berdua menjadi Perwakilan Kelas di MPK.Di kelas dua itu kami terlibat dengan ilmu ghaib (tenaga dalam) dengan dibina oleh salah seorang senior kami. Aku ikut mandi tengah malam dan berdzikir yang gak jelas. Selanjutnya Feri lebih mendalami ilmunya di salah satu perguruan sufiyyah di Purwokerto sementara aku tidak diijinkan oleh orang tuaku untuk mendalaminya (thanks to them).Kelas 3 kami berbeda kelas dan kami (secara alami) tidak aktif lagi di IPNU karena tuntutan akademis memang bertumpuk di kelas 3 SMU ini. 6. Abdul Rahim HasanDialah senior IPNU (doi kelas 3 ketika aku masuk SMU) yang membimbing aku di masa awal keterlibatan dengan IPNU, mengisi tenaga dalam ke aku.
Dia adalah seorang ketua rohis satu-satunya dari IPNU waktu itu. Sosok yang aku kagumi waktu itu.
7. Fajar Eri Wiryawan
Teman se SMU dan sekos (tetangga kamar).Sifatnya yang menonjol adalah kepasrahannya.
Nyaris aku nggak pernah bisa menggali apakah dia punya keinginan apa nggak. Hidup baginya ya berjalan begitu saja seolah-olah tanpa hasrat. Kata-kata yang tak lepas dari mulutnya adalah “terserah…” Bahkan ketika dia ndaftar PMDK di STT Telkom, kayaknya dia juga melakukannya iseng tanpa niat yang jelas.
Hobinya yang menonjol adalah mencuci. Setiap hari dia terlihat nongkrong di sebelah sumur kos-kosan mencuci. Selain itu doi hobi tidur.
Kelas tiga aku berpisah dari Jiban dan bersama Eri dan Imam pindah ke kos-kosan baru. Eri menjadi teman sekelasku di kelas 3 ini. Selain itu dia juga sebimbel denganku (di Netron).
8. Imam Kurniawan
Sama dengan Eri, teman sekos. Berbeda dengan Eri yang berkulit gelap. Imam benar-benar berkulit terang dan bersih tanpa jerawat. Resepnya (kata si Imam) adalah makan cicak!!
Bertolak belakang dengan penampilannya yang terlihat lembut, ternyata hobinya adalah musik keras. Metalica dan semacamnya menjadi rungon-rungon wajib di kamarnya.
Berbeda dengan Eri, Imam anaknya cenderung ambisius. Kelihatan dari matanya dia penuh cita-cita dan rajin berusaha untuk mencapai cita-citanya.
Ambisiusnya dia terlihat jelas di kelas 3. Dialah satu-satunya anak diantara 5 orang penghuni kosan yang selalu pegang modul belajar neutron kemanapun pergi. Pegangannya gak jauh-jauh dari mata pelajaran kimia, fisika, matematika.Dan terbukti kemudian, dia diterima di FK Undip. Dan sekarang sedang menjalani pendidikan spesialis obgyn.
Aku masih sering menghubunginya, terutama kalo mau konsultasi masalah kesehatan.
9. Muhammad Bahri Nur Habbibi
Disingkat Habibi dipanggil Hebi. Teman sekelas di kelas 1 dan 2.
Dia yang pertama mengapresiasi hobi musik klasikku. Bersama Hebi, Feri dan Fikri dan beberapa teman lain, kami memenangkan lomba mading (padahal cerpennya aku plagiat dari Annida)
Kemudian kelompok kami bersama kelompok dari kelas 1-1 berhak mewakili sekolah di lomba koran dinding. Benar-benar proyek yang berat di bulan ramadhan. Kami membuat tulisan sampai malam di rumah Hebi pake komputernya hebi (satu-satunya anggota kelompok yang punya komputer berbasis window saat itu), bernegosiasi dengan percetakan, ngejar-ngejar deadline cap pos langsung ke kantor pos sampai lupa buka puasa.
Setelah itu aku kadang main ke rumah hebi, belajar mengoperasikan komputer berbasis window (di sekolah masih pake dos), belajar ngetik dan … belajar main musik pake keyboard.
Sebelumnya aku sudah mahir main melodi di keyboard tapi belum tahu sama sekali mengenai harmoni (kunci-kuncinya). Hebi lah yang pertama mengajari aku. Lagu pertama yang aku mainkan lengkap dengan harmoninya adalah sleeping child. Sampai pada satu saat aku semakin memperdalam filsafat sufi dan kemudian berniat menghindar dari musik karena musik adalah salah satu kesenangan dunia.
Pernah Shurej (teman sekelasku) menawariku untuk bergabung dengan band-nya tapi aku tolak, karena aku sudah menjadi seorang sufi yang berusaha menghindari musik (jadi bukan karena tahu hukum syar’i dari musik yang memang haram).
Selain itu hebi punya koleksi musik klasik dan richard clayderman. Aku mengkopi koleksinya itu memakai recordernya Jiban.
Kelas 3 sudah tidak sekelas lagi. Selanjutnya dia masuk ITB jurusan penerbangan. Kemudian setelah lulus dia membangun bisnisnya sendiri dengan temannya.
10. Aris
Anak SMU 2, teman sekos bersama Jiban, Eri dan Imam.
Berbeda dengan Jiban yang polos, Eri yang nrimo dan Imam yang ambisius, ciri menonjol dari Aris adalah ekspresif-nya. Di kampungnya (Tambak) dia adalah pemilik satu-satunya rental alat-alat musik lengkap. Dialah yang membuat kos-kosan kami ramai. Bukan Jiban, bukan eri, bukan imam dan bukan aku.
Dialah yang suka iseng dengan koleksi-koleksi musik klasikku. Menambah-nambah koleksiku dengan narasi ala penyiar radio. Narasi yang menceritakan kisah cinta Imam dengan seorang cew sekelasnya (padahal kisah itu boongan).
Dialah juga yang paling getol ngajarin jiban mengenai seksologi.
11. Suradi
Anak SMU 2, Teman sekamarku pas kelas 3, after aku pisah sama Jiban, pindah ke kos-kosan baru bareng sama Eri dan Imam.
Orangnya dewasa banget, kalem tapi bersemangat.
Pas kos kelas 3 itulah kami berlima (aku, Suradi, Eri, Imam dan Anwar) ikut liqo model IM. Waktu itu dengan kepolosannya kami nggak tau kalo itu hizbiyah. Kami tenang-tenang saja ikut. Dan waktu disuruh ngangkat ketua kelompok. Dengan aklamasi kami mengangkat Suradi sang kepala suku sebagai ketua kelompok liqo.
Dalam kepolosannya akan ajaran IM, ia memang bersemangat sekali mengatur segalanya ketika hari liqo datang. Mengatur iuran mengatur snek dll.
Waktu idul adha, kos-kosan kami mendapat limpahan daging berkilo-kilo. Kami (dengan komando Suradi) masak dengan segala macam cara dan berbagai macam bumbu yang semuanya gak jelas. Bikin bara arang sampai dapur kos-kosan penuh asap (masih gagal bikin bara juga). Bumbunya cuman kecap. Pas mau bikin masakan yang seriusan dikit (pake bumbu instan), eh malah hangus di kompor.
Untunglah ada Asep, tetangga kos-kosan yang datang membantu kami (memasak dan ikut makan).
Sampai pagi menjelang, daging masih tersisa banyak. Terpaksa kami makan daging dengan lauk nasi.
Terakhir aku tahu suradi kuliah di akper dan jadi ikhwan.
12. Asep Sadiana
Anak SMU 2, tetangga kos, satu-satunya teman penghubung antara masa SMU dan Kuliah.

2 comments
Comments feed for this article
January 29, 2008 at 10:39 am
Asep Sadiana
Fai aku masih ingat padamu meski sudah kehilangan kontak. Blog ini kebetulan kutemukan tidak sengaja. Salam buat anak isterimu. Aku juga sekarang udah punya 1 putra (Alandra Akila Sadiana). Sekarang kamu kerja di mana? Kalau aku pulang kampung jadi petani.
March 15, 2008 at 4:02 pm
Jadi
kesuwun banget, esih kelingan karo inying, siki aku wis dadi wong tua, duwe anak bojo, kepriwe kabare pada sehat mbok, siki kowe wis dadi wong sukses ya gaweane nyekeli duit, he.he. he